Meski demikian, ia mengakui terdapat sejumlah tantangan struktural yang membebani kinerja Timah, mulai dari maraknya aktivitas penambangan ilegal hingga persoalan tumpang tindih perizinan. Isu-isu tersebut, menurutnya, telah menjadi perhatian pemerintah dan Presiden untuk segera ditata kembali.
“Sekarang mau dirapikan, dibersihkan, dan dikonsolidasikan. Saya rasa masa depannya sangat positif. Timah itu berperan besar terhadap suplai timah dunia,” ujarnya.
Febriany menegaskan, Danantara diposisikan sebagai last resort dalam pembiayaan BUMN. Injeksi modal baru akan dipertimbangkan apabila perusahaan tidak lagi mampu melakukan perbaikan melalui upaya internal maupun dukungan holding.
“Apakah dari Danantara langsung? Saat ini belum, karena kemungkinan dia masih sanggup sendiri dan juga sanggup di holding-nya,” kata dia.
Kendati demikian, peluang investasi tetap terbuka apabila unit Danantara Investment Management melihat potensi komersial yang layak di Timah. Artinya, keterlibatan Danantara tetap bersifat selektif dan berbasis kelayakan bisnis.
Selain isu pendanaan, Febriany juga menyoroti tantangan non-finansial dalam transformasi BUMN, khususnya resistensi terhadap perubahan. Menurutnya, proses transformasi kerap memunculkan ketidaknyamanan, terutama di level sumber daya manusia.
“Change is always uncomfortable. If you feel comfortable, you are not growing. Tapi kalau Anda merasa tidak nyaman, there is a chance that you are growing,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Danantara dinilai berperan menyatukan visi transformasi BUMN sekaligus mendorong budaya growth mindset, ketangguhan, dan resiliensi, dengan integritas sebagai fondasi utama dalam pengelolaan korporasi.
(dhf)






























