“Harga CPO mengalami tekanan. Investor keluar dari pasar. Pelemahan ini mungkin akan bertahan sampai produksi turun,” tegas Mistry, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Pada November tahun lalu, Mistry memperkirakan harga CPO bisa melesat hingga mencapai MYR 5.500/ton pada Januari-Maret 2026. Ini karena Indonesia menerapkan kebijakan B50, yang bisa menyedot pasokan CPO di pasar global.
Namun proyeksi bullish tersebut telah bergeser. Selain karena tingginya produksi, permintaan minyak nabati terutama di Amerika Serikat (AS) juga tidak setinggi perkiraan.
Analisis Teknikal
Jadi bagaimana perkiraan harga CPO untuk hari ini, Selasa (13/1/2026)? Apakah bisa naik lagi atau malah terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), CPO masih tersangkut di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 46.
RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish. Namun RSI CPO belum jauh dari 50 sehingga boleh dikatakan cenderung netral.
Kemudian indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 80. Sudah menyentuh ambang batas jenuh beli (overbought).
Untuk perdagangan hari ini, harga CPO sayangnya berisiko turun. Cermati pivot point di MYR 4.052/ton.
Dari situ, harga CPO bisa saja menguji support MYR 4.037/ton yang merupakan Moving Average (MA) 10. Support selanjutnya ada di rentang MYR 4.034-4.017/ton.
Target paling pesimistis atau support terjauh adalah MYR 3.952/ton.
Namun andai harga CPO masih kuat menanjak, maka MYR 4.111/ton akan menjadi resisten terdekat. Penembusan di titik ini berpotensi mengatrol harga CPO menuju MYR 4.136-4.139/ton.
(aji)




























