Ia menegaskan bahwa pasien yang meninggal di RSHS Bandung memiliki penyakit lain yang secara medis jauh lebih berisiko. Penyakit-penyakit tersebut kemudian memperbaiki kondisi tubuh pasien saat terinfeksi influenza.
“Ini sama juga yang di Bandung itu, karena dia memang punya penyakit-penyakit lain yang menyebabkan yang bersangkutan jadinya meninggal,” kata Budi.
Lebih lanjut, Budi kembali menekankan bahwa secara umum tingkat kematian Super Flu atau Influenza A H3N2 subclade K tetap sangat rendah. Yang tertinggi dari virus ini adalah tingkat penularannya, bukan tingkat kematian.
Kementerian Kesehatan pun meminta masyarakat untuk tidak panik dan tidak menarik kesimpulan yang salah dari satu atau dua kasus kematian. Pemerintah, kata Budi, memastikan terus memantau perkembangan kasus dan layanan kesehatan berjalan optimal.
(dec)





























