Logo Bloomberg Technoz

Digitalisasi Dongkrak Penjualan Luckybite, Tembus Pasar Ekspor


dok. Ist
dok. Ist

Bloomberg Technoz, Jakarta - UMKM makanan ringan Luckybite menunjukkan transformasi bisnis yang konsisten sejak dirintis dari dapur rumahan. Berkat pemanfaatan kanal digital dan strategi musiman, usaha ini kini berkembang dengan puluhan karyawan serta mulai menembus pasar ekspor.

Luckybite didirikan oleh Julius Christian Darmawan bersama Steven Marselie. Pada tahap awal, proses pengembangan produk dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan oven rumahan dan bahan utama oatmeal.

“Kita RnD (riset dan pengembangan) kurang lebih 2 bulan dari oven rumahan dengan bahan utama oatmeal sama seperti granola. Kita jualan sendiri mulai dari produksi, packing sampai semuanya soalnya belum punya karyawan,” ujar Julius.

Ia menuturkan bahwa seluruh proses produksi, pengemasan, hingga penjualan pada awalnya dilakukan secara mandiri. Penjualan sempat menunjukkan tren positif sebelum pandemi Covid 19 memaksa usaha tersebut kembali berjuang dari titik awal.

“Setelah kita jalan mulai ada penjualan tuh pelan-pelan naik, kemudian ada Covid tuh, istilahnya mulai dari nol lagi, ngulang lagi dari produksi sendiri, packing sendiri. Dari situ baru pelan-pelan ada kenaikan penjualan sampai kita mulai develop produk lain juga,” katanya.

Pandemi menjadi fase pembelajaran penting bagi Luckybite. Dari tantangan tersebut, perusahaan mulai mengembangkan varian produk baru serta memperkuat strategi pemasaran berbasis digital.

Momentum Musiman dan Ekspansi Ekspor

Steven Marselie & Julius Christian Darmawan, Pemilik Luckybite (Bloomberg Technoz/Syailendra Wiratama)

Menjelang Hari Raya Idulfitri, Luckybite menghadirkan inovasi produk dalam bentuk hampers. Konsep ini mengombinasikan berbagai varian camilan menjadi paket yang menarik untuk hadiah.

“Jelang lebaran ini kita bikin jadi set hampers dari produk-produk yang biasa kita jual, kita campur-campur kreasikan jadi hampers buat orang-orang yang mau kasih di hari raya,” jelas Julius.

Strategi musiman terbukti efektif mendongkrak penjualan. Momentum Lebaran, Natal, dan Imlek menjadi periode dengan lonjakan permintaan signifikan dibanding hari biasa.

“Terkait sales memang kita memanfaatkan momentum lebaran, natal dan imlek. Kenaikannya bisa 100% dari penjualan reguler atau low season biasa,” ungkap Steven.

Pada momen Lebaran saja, penjualan dapat mencapai sekitar 5 ribu pesanan. Lonjakan tersebut turut didukung partisipasi Luckybite dalam program promosi Big Ramadan Sale di Shopee.

“Di Ramadan ini kita juga ikut program Big Ramadan Sale Shopee, kita tiap tahun ikut program itu sama yang Natal juga, itu lumayan nge-boost penjualan. Selama momen lebaran saja penjualan bisa mencapai 5 ribu pesanan,” kata Steven.

Sejak awal, Luckybite memanfaatkan Instagram dan Shopee sebagai kanal utama pemasaran. Integrasi kedua platform tersebut memudahkan pengelolaan transaksi dan distribusi.

“Kita dari awal jualannya di Instagram dan Shopee, biasanya dari Instagram dilempar ke Shopee karena lebih praktis dan efisien jadi kita nggak perlu ngatur pengiriman lagi, semua sudah otomatis kalau di Shopee,” ujarnya.

Mayoritas pengiriman masih didominasi wilayah Jabodetabek. Faktor ongkos kirim menjadi pertimbangan utama dalam pola distribusi.

“Sampai saat ini pengirimannya tertinggi masih seputar Jabodetabek aja, karena mungkin kalau keluar ongkirnya lebih tinggi, sedangkan kalau Jabodetabek itu bisa free ongkir,” jelas Steven.

Selain promosi reguler, fitur afiliasi dan live streaming juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan penjualan. Aktivitas promosi oleh afiliator, terutama pada malam hari, mendorong transaksi lebih tinggi.

“Affiliate dari Shopee juga lumayan nge-boost penjualan, biasanya mereka live malam-malam, itu lumayan meningkat,” ujarnya.

Shopee kini menjadi kanal utama Luckybite dengan kontribusi penjualan terbesar. Segmentasi konsumen dinilai sesuai dengan karakteristik produk makanan ringan yang dipasarkan.

“Kita utamanya di Shopee, paling nyaman dan sales-nya paling tinggi untuk makanan di Shopee. Customer cewek biasanya di Shopee, entah kenapa mungkin memang promonya lebih banyak,” pungkasnya.

Pertumbuhan Luckybite tidak hanya terlihat dari sisi penjualan, tetapi juga jumlah tenaga kerja. Saat ini perusahaan mempekerjakan 23 karyawan tetap.

“Total karyawan yang kerja saat ini ada 23 orang dari awal merintis yang hanya 3 orang dan untuk hari raya seperti lebaran ini kita nambah freelance 6 orang yang kerja di dapur dan di gudang,” tambahnya.

Ekspansi pasar internasional juga mulai dilakukan melalui platform e commerce. Produk Luckybite telah dikirim ke Singapura dan Malaysia.

“Sudah mulai ekspor ke beberapa negara, Singapura dan Malaysia. Imlek kemarin Singapura lumayan tinggi, jadi kita kirim ke gudang Shopee di sana. Jadi Shopee yang platform internasionalnya ngebantu banget untuk kita bisa menjangkau customer di luar, untuk ngebantu ekspor juga. Pas Imlek kemarin penjualan bisa sampai 20% ke Singapura. Kalau lebaran ini mungkin lebih banyak permintaannya dari Malaysia,” paparnya.

Keberhasilan Luckybite menunjukkan bahwa konsistensi strategi digital mampu mendorong UMKM naik kelas. Inovasi produk dan pemanfaatan momentum musiman menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan.

Dengan fondasi digital yang kuat, Luckybite optimistis dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat internasional.