Saham–saham konsumen non primer, saham transportasi, dan saham perindustrian menjadi penopang utama penguatan IHSG bertahan di zona hijau dengan menguat mencapai 2,91%, 2,35% dan 2,23%.
Berseberangan jauh dengan IHSG, saham–saham LQ45 justru terjerembab di teritori negatif antara lain, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ambles 3,55%, saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) terpeleset 3,51%. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melemah 2,06%, dan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) drop 1,78%.
Investor gelisah terhadap pelemahan rupiah yang tengah berada di level Rp16.848/US$ di pasar spot berdasarkan data Bloomberg, setelah sempat menyentuh level terendah di Rp16.850/US$.
Kinerja rupiah yang melaju di tren negatif, terjadi ketika dolar AS melaju cepat di zona pelemahan mencapai level 98,949. Di pasar kontrak Non-Deliverable Forward (NDF), rupiah diperdagangkan di Rp16.867/US$.
Dalam intraday trading hari ini rupiah sempat menyentuh level terlemahnya di Rp16.850/US$, tersengat sentimen kehati-hatian defisit yang melebar, berpotensi menurunkan daya tarik aset keuangan Indonesia dan meningkatkan premi risiko di mata investor asing.
Tekanan tersebut turut tercermin di pasar obligasi, di mana imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tercatat meningkat, mengindikasikan manuver jual yang mulai terjadi seiring pasar merespons naiknya risiko fiskal.
Faktor selanjutnya hadir dari pasar global, volatilitas dinamika pasar yang makin intens turut menjadi pemberat utama. Ketidakpastian geopolitik kembali mengemuka menyusul eskalasi konflik di Venezuela pascaintervensi militer Amerika Serikat, serta meningkatnya ketegangan di Iran yang memunculkan risiko gangguan pasokan energi.
Dalam iklim ketidakpastian yang tinggi, investor global cenderung menghindari aset negara berkembang, terutama negara yang dinilai belum menawarkan kepastian fundamental dalam jangka pendek.
(fad/aji)



























