Logo Bloomberg Technoz

Bloomberg Businessweek Indonesia

Buntung Industri, Gelembung AI dan 'Kebangkitan Sritex' Misterius

Bloomberg Businessweek Indonesia
12 January 2026 15:14

Kegiatan ekspor dan impor (Yustinus Andri/Bloomberg Businessweek Indonesia)
Kegiatan ekspor dan impor (Yustinus Andri/Bloomberg Businessweek Indonesia)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sekian banyak perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia dengan berbagai negara di banyak belahan dunia, sejauh ini ternyata masih belum cukup optimal membantu perdagangan yang menjadi salah satu mesin pendorong pertumbuhan ekonomi. Alih-alih, beberapa perjanjian dagang dengan negara tertentu yang tidak dibarengi dengan kesiapan perlindungan industri dalam negeri, malah menjadi pintu masuk barang murah impor yang pada satu titik menekan daya saing produk lokal.

Memperkuat strategi dagang di tengah perubahan dramatis peta perdagangan global pasca ‘bom tarif’ dijatuhkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada April 2025 -berlanjut dengan ketidakpastian geopolitik yang kian tajam di awal 2026- menjadi kebutuhan mendesak ketika mesin konsumsi domestik masih belum bergerak optimal, agar perekonomian Indonesia mampu bertahan dan pulih.

Sejumlah alarm telah berdering nyaring membutuhkan kesigapan penyelenggara negara agar tak terjebak jurus lama dan mengulang lagi ‘kesalahan’ strategi pada 2025, sehingga tahun yang baru ini tak sampai tercipta cerita lebih buruk ketimbang sebelumnya.


Sorotan Utama Bloomberg Businessweek Indonesia edisi perdana tahun 2026 menyoroti isu-isu tersebut menjadi peringatan akan kebutuhan langkah sigap pemulihan perekonomian memasuki tahun yang berat, sekaligus menyodorkan harapan bahwa ekonomi kita masih memiliki peluang pulih dan bangkit kembali. Terbagi dalam tiga bagian artikel yang mengulas apa yang terjadi setelah sekian banyak perjanjian dagang dimiliki Indonesia, juga celah apa yang masih mungkin digarap agar berbagai perjanjian itu bisa memberi keuntungan lebih besar hingga mampu mendukung perekonomian domestik.

Sebelum melahap laporan di Sorotan Utama, edisi Januari ini akan dibuka dengan laporan peringatan keras dari bolong neraca pembayaran sangat besar pada 2025, memberi pesan mendesaknya pemulihan kepercayaan supaya ketidakpastian ke depan bisa termitigasi lebih baik, dalam Alarm Berdering Nyaring dari Defisit Neraca Pembayaran yang Menganga.