Waskita Karya Tuntaskan Jalur Kritis LRT Jakarta Fase 1B

Bloomberg Technoz, Jakarta - Proyek Light Rail Transit LRT Jakarta Fase 1B Velodrome Manggarai yang dikerjakan PT Waskita Karya Persero Tbk menunjukkan kemajuan signifikan. Salah satu tahapan paling krusial, yakni penyambungan jalur layang di atas Jalan Tol Ir Wiyoto Wiyono, kini telah tersambung penuh. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam pengembangan transportasi publik berbasis rel di Ibu Kota.
Hingga akhir 2025, progres keseluruhan proyek senilai Rp4,1 triliun tersebut telah mencapai 89,22 persen. Proyek milik PT Jakarta Propertindo ini ditargetkan dapat mulai dimanfaatkan masyarakat pada pertengahan tahun 2026. Kehadiran LRT Jakarta Fase 1B diharapkan memperkuat konektivitas antarkawasan serta mendorong peralihan masyarakat ke transportasi umum.
Penyambungan lintasan di atas Tol Ir Wiyoto Wiyono dilakukan melalui pemasangan bentang girder sepanjang 120 meter. Tahapan ini menjadi salah satu titik paling menantang karena berada di atas jalur tol aktif dengan volume lalu lintas tinggi. Keberhasilan pekerjaan tersebut mencerminkan koordinasi teknis yang matang serta perencanaan yang presisi.
Corporate Secretary Waskita Karya Ermy Puspa Yunita menjelaskan bahwa penyelesaian bentang girder tersebut merupakan pencapaian penting dalam proyek. “Waskita Karya bersyukur proses penyambungan bisa selesai dan berjalan lancar sesuai rencana. Keberhasilan ini menunjukkan sinergi yang kuat antara Perseroan dengan PT Jakarta Propertindo, pemerintah daerah, serta para stakeholder (pemangku kepentingan),” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dengan tersambungnya jalur tersebut, lintasan layang LRT Jakarta kini terhubung dari Kelapa Gading hingga Jalan Pramuka. Jalur ini mengintegrasikan wilayah Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat melalui sistem rel layang yang berkesinambungan. Integrasi ini menjadi fondasi penting dalam membangun jaringan transportasi perkotaan yang efisien.
Selain lintasan utama, sejumlah struktur di koridor Jalan Pemuda, Jalan Pramuka, Jalan Tambak, dan Jalan Sultan Agung juga telah tersambung. Pada pekerjaan rel atau trackwork, realisasi pembangunan telah mencapai sekitar 4,7 kilometer. Pencapaian tersebut menandakan proyek telah memasuki fase akhir konstruksi.
Digitalisasi Dorong Efisiensi Konstruksi
Di sisi lain, pekerjaan arsitektural serta mekanikal elektrikal plumbing MEP masih terus berlangsung di beberapa stasiun utama. Stasiun Pramuka BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman, dan Stasiun Manggarai menjadi fokus penyelesaian tahap berikutnya. Waskita optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Sementara untuk pekerjaan arsitektural dan Mekanikal, Elektrikal, Plumbing (MEP) sedang berlangsung di Stasiun Pramuka BPKP, Stasiun Pasar Pramuka, Stasiun Matraman, serta Stasiun Manggarai. Kami optimis pembangunan LRT Jakarta Fase 1B selesai tepat waktu,” jelas Ermy.
Keberhasilan proyek ini tidak lepas dari penerapan inovasi digital yang konsisten. Waskita Karya mengadopsi teknologi Building Information Modelling BIM serta platform digital Bentley Systems untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi konstruksi. Pemanfaatan teknologi ini dinilai krusial mengingat kompleksitas pembangunan di kawasan perkotaan yang padat.
Pendekatan digital tersebut juga mengantarkan Waskita Karya menjadi salah satu finalis Bentley’s Going Digital Awards Year in Infrastructure YII 2025 di Amsterdam, Belanda. Inovasi yang diterapkan dalam proyek LRT Jakarta Fase 1B dinilai mampu meningkatkan keselamatan kerja, efisiensi waktu, serta keberlanjutan konstruksi.
Dalam ajang yang diikuti 250 nominasi dari 47 negara tersebut, Waskita menampilkan pemanfaatan teknologi digital untuk mempermudah pengerjaan proyek di tengah keterbatasan ruang perkotaan. Tantangan pembangunan sarana transportasi massal di wilayah padat mendorong Perseroan untuk menghadirkan solusi inovatif berbasis teknologi.
Untuk mempercepat pembangunan, Waskita juga memanfaatkan drone fotogrametri dan simulasi 4D. Teknologi ini memungkinkan pemantauan proyek secara real time serta membantu pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. Seluruh data proyek dikonsolidasikan dalam satu sistem terintegrasi.
“Waskita menggunakan platform digital terintegrasi yang menggabungkan data spasial, model BIM, dan jadwal pekerjaan dalam satu sistem. Cara ini bertujuan memudahkan seluruh tim, baik teknis maupun nonteknis, untuk mengakses informasi proyek secara langsung serta cepat mengambil keputusan,” kata Ermy.
Melalui pendekatan tersebut, Perseroan berhasil mengidentifikasi dan menyelesaikan lebih dari 1.200 potensi kendala sebelum konstruksi berlangsung. Implementasi simulasi 4D tidak hanya meningkatkan aspek keselamatan kerja, tetapi juga mendorong metode konstruksi yang lebih presisi dan efisien.
Penyelesaian LRT Jakarta Fase 1B menjadi harapan besar bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya. Kehadiran moda transportasi ini diyakini dapat mengurangi tingkat kemacetan sekaligus menurunkan emisi karbon perkotaan. Transportasi publik berbasis rel menjadi salah satu solusi strategis untuk memperbaiki kualitas udara dan mobilitas warga.
“Penyelesaian proyek ini sudah sangat dinantikan masyarakat Jakarta dan sekitarnya, karena tidak hanya mampu mengurangi kemacetan, tapi juga dapat menurunkan jejak karbon perkotaan untuk mendukung kualitas udara yang lebih baik. Waskita Karya berkomitmen, akan terus mendukung hadirnya sistem transportasi publik yang andal, aman, nyaman, sekaligus berkelanjutan,” tutur Ermy.
Sebagai BUMN konstruksi yang berdiri sejak 1961, Waskita Karya terus memperkuat perannya dalam pembangunan infrastruktur nasional. Melalui proyek LRT Jakarta Fase 1B, Perseroan menegaskan komitmen menghadirkan infrastruktur transportasi modern yang mendukung pertumbuhan kota berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
































