"Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional, dengan kapasitas kilang mencapai 360.000 barel per hari,” ujar Baron.
Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan tidak hanya memproduksi bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat dihasilkan di kilang ini.
Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang sekaligus memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.
Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan, tercermin dari Nelson Complexity Index (NCI) yang melonjak dari 3,7 menjadi 8,0.
Di mana makin tinggi angkanya, menunjukkan kilang lebih kompleks, sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk berkualitas tinggi.
Sementara itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3% menjadi 91,8 persen, atau naik sekitar 16%, menegaskan efisiensi dan daya saing kilang yang makin tinggi.
Setop Impor Solar
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan kementeriannya bakal menghentikan impor Solar tahun ini.
Komitmen itu disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto saat sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).
Bahlil menerangkan langkah setop impor Solar itu berdasar pada kapasitas produksi domestik yang bakal naik setelah beroperasinya RDMP Balikpapan.
Selain itu, Bahlil menambahkan, kementeriannya bakal mengerek bauran solar dengan biodiesel sebesar 50% pada paruh kedua 2026.
“Jadi mulai tahun depan Indonesia tidak lagi melakukan impor Solar karena antara konsumsi dan produksi kita sudah cukup,” kata Bahlil.
Selepas penerapan B50, Bahlil memperkirakan, produksi Solar domestik bakal surplus sekitar 4 juta ton nantinya. Menurut dia, posisi surplus solar itu bisa diubah menjadi produk Avtur.
“Sehinga di 2026, insyallah Solar kita sudah clear, Avturnya juga bisa kita produksi dalam negeri,” kata dia.
(naw)




























