Akan tetapi, sepertinya laju kenaikan harga CPO dibatasi oleh pasokan yang melimpah. Survei Bloomberg mengungkapkan, stok CPO Malaysia pada Desember 2025 diperkirakan sebanyak 2,99 juta ton.
Jika terwujud, maka akan menjadi yang tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Stok juga akan mengalami kenaikan selama 10 bulan beruntun.
“Secara umum, sulit bagi CPO untuk bangkit secara signifikan dalam situasi seperti ini,” ujar Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Lantas bagaimana proyeksi harga CPO untuk pekan depan? Apakah bisa naik lagi atau malah terkoreksi?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), CPO masih tersangkut di zona bearish. Terbukti dengan Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 43. RSI di bawah 50 menunjukkan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Adapun indikator Stochastic RSI 14 hari ada di 31. Menghuni area jual (short) yang kuat.
Lalu indikator Average True Range (ATR) 14 hari ada di 130. Artinya, kemungkinan volatilitas harga CPO akan tinggi.
Untuk perdagangan minggu depan, harga CPO masih berpeluang naik. Target resisten terdekat adalah MYR 4.060/ton yang merupakan Moving Average (MA) 10.
Jika tertembus, maka ada peluang harga naik lagi ke level MYR 4.086-4.129/ton. Target paling optimistis atau resisten terjauh adalah MYR 4.170/ton.
Namun kalau harga CPO malah turun, maka cermati pivot point MYR 4.018/ton. Penembusan di titik ini bisa menyebabkan harga CPO terpangkas menuju MYR 4.006/ton.
Target paling pesimistis atau support terjauh ada di MYR 3.826/ton.
(aji)





























