Logo Bloomberg Technoz

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Febrio Kacaribu mengatakan, melonjaknya defisit tersebut tak lain disebabkan oleh realisasi penerimaan negara yang menurun tajam, salah satunya akibat pengalihan dividen BUMN ke Danantara.

"Lalu juga, kita menghadapi beberapa situasi di mana tadi dividen kita juga jadinya pindah ke Danantara," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Memang, kehadiran SWF yang resmi diluncurkan pada Februari 2025 lalu tersebut membuat dividen BUMN tak lagi masuk ke kas negara, yang pada akhirnya membuat realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menurun.

Sepanjang 2025, realisasi PNBP tercatat sebesar Rp513,6 triliun. Meski melebihi atau 104% dari dari target, angkanya turun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang masih Rp584,4 triliun.

Hal lain yang juga menjadi penyebab utama melebarnya defisit tersebut adalah melemahnya harga komoditas sepanjang 2025. Hal itu turut menekan pendapatan negara.

"Kita memang menghadapi tahun yang cukup menantang di 2025. Pendapatan kita cukup menantang, tadi, karena harga komoditas juga turun," tutur dia.

(ain)

No more pages