Logo Bloomberg Technoz

Hal serupa juga diungkapkan oleh pengendara lainnya, Gina (30), warga yang tinggal di kawasan kuningan dan hampir setiap hari melintasi Jalan Rasuna Said menilai keberadaan tiang monorel mengganggu kenyamanan berkendara sekaligus merusak pemandangan.

“Jelek banget sebenarnya ya, ada yang tinggi banget ada yang rendah besinya enggak serempak. Mending diganti dengan tanaman lebih bagus,” tuturnya. 

Di sisi lain, seorang juru parkir di salah satu belokan Jalan Rasuna Said, Andi (25) menyebut saat malam hari dia pernah menemukan beberapa orang tengah berupaya mengambil besi-besi tiang monorel tersebut. 

“Ada yang pernah ngambilin kalau malam saya pernah liat makanya bengkok-bengkok gitu kan. Kayaknya susah diambil kalau enggak pake alat profesional,” imbuhnya. 

Seorang penjual minuman pinggir jalan atau starling, Sohib (50) juga mendukung langkah Pramono untuk segera membongkar tiang monorel tersebut. Dia pun menyarankan jalan di Rasuna Said yang terbagi dua ruas nantinya dapat menjadi satu seperti sisi barat agar tidak ada jalur lambat dan jalur cepat. 

“Ada yang pernah ngambilin kalau malam saya pernah liat makanya bengkok-bengkok gitu kan. Kayaknya susah diambil kalau enggak pake alat profesional,” imbuhnya. 

Andi (25)

“Bagus dibongkar kalau bisa sekalian jalannya dijadikan satu biar sama dengan sebelahnya karena kemarin saya pernah liat ada orang ngukur-ngukur jalan. Mungkin untuk itu [pembongkaran monorel],” imbuhnya. 

Diketahui, tiang monorel milik PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) tersebut mangkrak di Jalan HR Rasuna Said hingga Jalan Asia Afrika. Beberapa tiang pancang di Jalan Rasuna Said dekat Halte Patra Kuningan ada yang ditempel dengan tanaman hias. 

Sementara beberapa tiang monorel mangkrak di Jalan Asia Afrika dekat Hotel Fairmont telah beralih fungsi karena dijadikan papan reklame. 

Sebelumnya, Pramono Anung memastikan bakal membongkar sisa tiang monorel di sejumlah titik di wilayah Jakarta. Langkah ini diambil setelah PT Adhi Karya disebut mengabaikan perintah Pemprov DKI.

Dalam mengeksekusi pembongkaran monorel tersebut, Pemprov DKI Jakarta mengucurkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) sebesar Rp100 miliar untuk membongkar 98 tiang monorel yang mangkrak khusus di Jalan HR Rasuna Said. 

Pembersihan tiang monorel itu akan dieksekusi pekan depan atau lebih cepat dari perencanaan yang seharusnya pada pekan ketiga Januari 2026. 

“Totalnya semua sekitar Rp100 [miliar]. Menggunakan APBD,” kata Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo kepada awak media di Balai Kota Jakarta, Rabu (7/1/2026). 

Heru memastikan pembongkaran tersebut akan dilaksanakan pada Rabu pekan depan sesuai arahan Pramono Anung. Menurutnya, segala peraturan telah dipenuhi sehingga pembersihan tiang tersebut sudah bisa dieksekusi. 

Nantinya, kata dia, pasukan kuning Dinas Bina Marga DKI Jakarta akan mengeksekusi 98 tiang tersebut di sepanjang Jalan HR Rasuna Said. Pemprov DKI Jakarta bakal fokus membongkar tiang monorel yang ada di jalan tersebut sebelum merapikan tiang monorel yang ada di Jalan Asia Afrika. 

Heru menjelaskan APBD sebesar Rp100 miliar itu menyatu dengan anggaran penataan trotoar di Jalan HR Rasuna Said. Nantinya, Pemprov DKI Jakarta bakal menggabungkan dua ruas jalur di sisi timur menjadi satu jalur seperti halnya di sisi barat. 

“Kita hanya menata Jalan Rasuna Said saja, sepanjang 3,5 kilometer. Anggaran pembongkaran ini jadi satu dengan penataan jalan dan trotoarnya, ya detailnya saya enggak pegang ya,” jelas Heru.

Sekadar catatan, proyek monorel Jakarta dimulai sejak era Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Pembangunannya diresmikan oleh Presiden Megawati  pada 14 Juni 2004. Proyek itu  terhenti di tengah jalan hingga saat ini akibat berbagai persoalan, mulai dari sengketa aset, masalah pembiayaan, hingga keraguan kelayakan ekonomi.

(ell)

No more pages