Logo Bloomberg Technoz

Dolar AS Rebound, Tekan Rupiah dan Mata Uang Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
24 February 2026 09:18

Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)
Pekerja menghitung uang rupiah di tempat penukaran mata uang asing di Jakarta, Senin (19/1/2026). (Bloomberg Technoz/ Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini dibuka melemah menyusul apresiasi mata uang Negeri Paman Sam. 

Rupiah menyusut 0,2% di pasar spot ke posisi Rp16.828/US$ menyusul menguatnya indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia lainnya sebesar 0,14% ke 97,84 setelah dua hari perdagangan kemarin melemah hingga ke 97,69. 

Agaknya sentimen risk-on terbatas kemarin tak berlaku hari ini. Mata uang Asia kompak melemah seiring penguatan dolar AS yang kembali ditopang oleh dinamika kebijakan moneter global dan intervensi nilai tukar di kawasan.

Teranyar, People’s Bank of China (PBOC) menetapkan kurs tengah (fixing) dolar AS–yuan di level yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Hal ini menandakan sikap otoritas moneter yang masih berhati-hati dalam mengelola laju apresiasi renminbi. 

Penetapan kurs tengah oleh PBOC pada Selasa berada di level yang lebih tinggi dari perkiraan dan menjadi katalis bagi penguatan dolar AS secara luas. Kurs yuan China terhadap dolar AS aktual di 6,9414 berada di atas level yang tercatat pada hari perdagangan terakhir sebelum libur Tahun Baru Imlek. Sementara, ekspektasi elaku pasar valas sebelumnya memperkirakan fixing di kisaran 6,92. 

Kondisi tersebut lantas memicu penguatan dolar AS terhadap yuan dan turut menekan mata uang utama lainnya seperti euro dan yen Jepang, serta logam mulia. Saat yen Jepang tertekan, praktis mata uang Asia kompak merah. 

Pelemahan terbesar datang dari won Korea Selatan 0,22%, disusul rupiah, yen Jepang, dan ringgit Malaysia masing-masing susut 0,18%. Kemudian dolar Taiwan melemah 0,12% dan baht Thailand susut 0,11%, 

Pergerakan mata uang Asia setelah bank sentral China melakukan menetapkan kurs tengah di atas ekspektasi pasar (24/2/2026). (Bloomberg)

Bagi pelaku pasar valas, kebijakan fixing yang lebih kuat ini memperkuat persepsi bahwa penguatan yuan akan dilakukan secara bertahap, sekaligus menjaga stabilitas pasar domestik China di tengah volatilitas global. 

Tak heran, yuan China menjadi satu mata uang menguat paling kencang di sesi perdagangan hari ini sebesar 0,11%, kemudian disusul dolar Hong Kong dengan apresiasi tipis 0,01%. 

Di saat yang sama, pelaku pasar juga kembali mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah menyusul meningkatnya probabilitas eskalasi konflik antara AS dan Iran. Ketidakpastian ini mendorong investor untuk kembali mengakumulasi aset dolar AS sebagai safe haven, sekaligus membatasi ruang penguatan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.


Sebagai catatan, Goldman Sachs Group menaikkan proyeksi harga minyak untuk kuartal IV-2026 menjadi US$60/barel, sementara WTI naik menjadi US$56/barel, seiring lebih rendahnya penambahan persediaan di negara-negara maju.

"Harga masih diperkirakan turun dari level saat ini sebelum pulih secara bertahap pada 2027, dengan Brent rata-rata US$65/barel dan WTI di US$61 tahun depan," sebut Daan Struyven, analis Goldman, seperti dikutip Bloomberg News.