Di sisi lain, Josua menilai jika nantinya tata kelola ekspor Venezuela semakin diperketat oleh Amerika Serikat (AS), maka biaya pengapalan dan logistik bisa melonjak.
Untuk itu, dia mendorong pemerintah untuk merespons kondisi di Venezuela dengan menjaga fleksibilitas pengelolaan harga komoditas migas dan subsidi energi agar tepat sasaran.
Selain itu, Josua memandang pemerintah perlu memperkuat ketahanan pasokan migas melalui pengadaan dan pengelolaan persedian secara terukur.
“Serta mempercepat perbaikan struktur energi domestik agar manfaat dari harga minyak rendah tidak dibayar dengan pelemahan investasi dan keamanan energi jangka menengah,” tegas Josua.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim Indonesia aman dari dampak rambatan serangan AS ke Venezuela, lantaran tidak mengimpor minyak mentah (crude) dari negara Amerika Latin tersebut.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan akan memantau dan menganalisis efek domino dari konflik tersebut terhadap harga komoditas migas, terutama dampaknya terhadap subsidi energi.
Akan tetapi, dia memastikan konflik tersebut tidak memiliki dampak signifikan terhadap Indonesia sebab Venezuela bukan negara asal impor minyak mentah RI.
“Kita akan analisis, tetapi yang jelas, kondisi di negara saat ini stabil. Jadi tidak ada, belum [ada dampak ke Indonesia],” kata Laode ketika ditemui di kawasan Jakarta Selatan, baru-baru ini.
“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil."
Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan pemerintah memonitor secara berkelanjutan perkembangan gejolak yang terjadi di Amerika Latin tersebut.
Sejauh ini, kata dia, operasi militer tersebut tak memengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia sebab belakangan harganya bergerak di rentang US$63/barel.
“Sejak nasionalisasi dengan Hugo Chavez kan pada saat itu aset-aset AS dinasionalisasi. Dengan situasi begini sekarang ya kita monitor saja,” tegas Airlangga.
Minyak Brent untuk pengiriman Maret turun 1% menjadi US$60,09/barel pada pukul 10:28 pagi ini di Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari turun 1,4% menjadi US$56,34 per barel.
Pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump mengatakan sanksi terhadap industri minyak Venezuela akan tetap berlaku.
Namun, Trump menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan AS akan membantu membangun kembali infrastruktur dan menghidupkan kembali produksi, yang mungkin akan menjadi proses yang panjang.
Sekadar informasi, berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia pada 2023 sebesar 303 miliar barel atau setara 17% dari cadangan minyak mentah dunia.
Jumlah tersebut mengalahkan cadangan minyak mentah yang dimiliki negara-negara Timur Tengah.
Berdasarkan data tersebut, produksi minyak Venezuela sempat berada di sekitar 2,6 juta barel per hari pada 2011 hingga 2014, sebelum akhirnya menurun ke 2,5 juta juta barel per hari pada 2015.
Lalu, pada 2016 produksi minyak mentah Venezuela tercatat sebanyak 2,3 juta barel per hari, 2017 sebesar 2,06 juta barel per hari, 2018 1,5 juta barel per hari.
Kemudian, memasuki 2019 produksi minyak Venezuela berada di bawah 1 juta barel per hari yakni 928.000 barel per hari.
(azr/wdh)






























