Anggota utama OPEC+ yang dipimpin oleh Arab Saudi akan mengadakan pertemuan daring pada 4 Januari, di mana mereka diharapkan untuk menegaskan kembali keputusan untuk menunda peningkatan pasokan selama kuartal I-2026.
Harga minyak merosot pada 2025 karena baik OPEC+ maupun para pesaingnya, mulai dari AS hingga Guyana, meningkatkan produksi sementara pertumbuhan permintaan melambat.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan surplus sekitar 3,8 juta barel per hari untuk tahun tersebut.
Di tengah ekspektasi tersebut, para penasihat beralih ke posisi jual pendek (short selling) Brent sebesar 91% pada penutupan Jumat, naik dari 82%, menurut data dari Kpler’s Bridgeton Research Group. Para penasihat juga mengambil posisi jual pendek (short selling) WTI sebesar 73%.
Prakiraan surplus bertindak sebagai peredam guncangan terhadap berbagai potensi gangguan produksi.
Salah satu skenario tersebut dapat muncul di Iran, di mana Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa AS siap membantu para demonstran jika pihak berwenang menindak tegas kerusuhan, yang mendorong seorang pejabat tinggi Iran untuk mengancam pembalasan terhadap pasukan AS di wilayah tersebut.
Teheran dan kota-kota lain telah menyaksikan gelombang demonstrasi setelah mata uang lokal jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Iran adalah produsen minyak mentah terbesar kesembilan di dunia pada tahun 2023, menurut IEA.
Risiko lain ada di Venezuela, di mana pemerintahan Trump telah meningkatkan kampanye melawan ekspor minyak negara tersebut melalui blokade maritim dan dengan menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan di Hong Kong dan China daratan, bersama dengan kapal-kapal yang dituduh menghindari pembatasan.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memutus pendapatan minyak dan meningkatkan tekanan pada rezim Nicolas Maduro.
Sementara itu, perang Rusia terhadap Ukraina terus berlanjut meskipun ada upaya perdamaian dari Eropa dan AS.
Moskwa dan Kyiv saling menyerang pelabuhan Laut Hitam masing-masing selama periode awal tahun, merusak infrastruktur minyak termasuk kilang minyak. Konflik tersebut telah berdampak pada aliran energi dari Kazakhstan, negara lain dalam aliansi OPEC+.
Harga minyak:
- WTI untuk pengiriman Februari turun 0,2% menjadi US$57,32.
- Brent untuk pengiriman Maret turun 0,2% menjadi US$60,75.
(bbn)































