“Kalau Lebaran biasanya super crowded. Dengan adanya simpang susun Ambarawa ini diharapkan tidak terlalu padat di area bawahnya, sehingga kendaraan pemudik dari arah Jakarta bisa langsung ke Temanggung dan Magelang,” jelas Dody.
Tol Yogyakarta–Bawen terdiri atas enam seksi, dengan tantangan terbesar berada di seksi 4, dan 5, khususnya di kawasan Magelang dan Temanggung yang memiliki kontur perbukitan.
“Untuk pekerjaan konstruksi yang cukup berat ada di kawasan Magelang–Temanggung, karena daerahnya perbukitan. Pembebasan lahannya aman, hanya Seksi 4 dan 5 prosesnya agak lambat karena harus mengeruk bukit dan harus diperhatikan betul supaya tidak menimbulkan dampak lingkungan yang berkepanjangan,” tambahnya.
Secara kumulatif, progres pengadaan tanah Tol Yogyakarta–Bawen telah mencapai sekitar 58%. Untuk pengadaan tanah Seksi 1 telah mencapai 97%, Seksi 2 sebesar 92%, Seksi 3 mendekati 80%, Seksi 4 sekitar 60%, Seksi 5 sekitar 22%, dan Seksi 6 telah mencapai 97%.
Untuk progres konstruksi, Seksi 1 Yogyakarta - Bawen sepanjang 8,8 km ini telah mencapai sekitar 87,275% dan ditargetkan selesai pada Mei 2026. Seksi 1 ini akan terhubung dengan Tol Yogyakarta–Solo.
Sementara, untuk Seksi 2 saat ini telah berkontrak dengan mitra pelaksana konstruksi dengan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) direncanakan terbit awal Januari 2026. Kemudian untuk Seksi 3, akan mulai dilakukan lelang pada pertengahan Triwulan I 2026 agar konstruksi dapat dimulai pada Triwulan II.
Terkait kesiapan jaringan jalan tol secara nasional, Menteri Dody menyampaikan bahwa kondisi jaringan jalan tol secara umum cukup siap menghadapi libur Natal dan Tahun Baru, meskipun beban lalu lintas terbesar diperkirakan terjadi pada arus mudik Lebaran.
“Nataru ini secara garis besar sudah siap. Beban terbesar nanti di Lebaran, sehingga ini persiapan kita untuk menghadapi beban yang jauh lebih besar,” ujarnya.
(ell)
































