Selain itu, eksportir diperkirakan sudah mulai mengurangi laju pengiriman terutama ke Amerika Serikat (AS) yang juga salah satu negara mitra dagang utama Indonesia. Sebelumnya, pengiriman ke Negeri Paman Sam sempat digenjot sebelum ada kepastian soal tarif resiprokal dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
Namun kini sudah ada kepastian. Produk-produk made in Indonesia kena tarif bea masuk 19% mulai 7 Agustus. Setelah kepastian datang, pengiriman ke AS mengalami normalisasi.
Impor Minus
Di sisi impor, konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg menghasilkan median proyeksi pertumbuhan -1,64% yoy. Kontraksi, pertumbuhan negatif.
Jika terwujud, maka akan jauh memburuk ketimbang September yang tumbuh 7,17% yoy.
Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), menyebut kontraksi impor disebabkan oleh tingginya realisasi setahun lalu. Pada Oktober 2024, impor melonjak 17,49% yoy mencapai US$ 21,94 miliar.
Untuk neraca perdagangan, konsensus Bloomberg menghasilkan median proyeksi surplus US$ 3,68 miliar pada Oktober. Jika terwujud, maka surplus neraca perdagangan akan terjadi selama 66 bulan beruntun.
Namun (jika terwujud), pencapaian itu lebih rendah ketimbang September yang surplus US$ 4,34 miliar.
“Surplus akan terjaga meski menipis karena kemungkinan laju impor akan melampaui ekspor karena kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan ekonomi. Kebanyakan impor berupa barang modal atau bahan baku untuk keperluan produksi dan investasi,” sebut Faisal.
Surplus neraca perdagangan, lanjut Faisal, akan menjaga defisit transaksi berjalan di tingkat yang terjaga. Dia memperkirakan transaksi berjalan pada 2025 akan berada di kisaran defisit 0,4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) hingga surplus 0,2% PDB.
“Pada 2026, transaksi berjalan kami perkirakan mengalami defisit tipis di bawah 1% PDB. Kinerja eksternal Indonesia relatif stabil dengan tekanan di cadangan devisa yang terbatas,” tuturnya.
(aji)



























