“Untuk Capex 2026 masih dalam tahap finalisasi. Tetapi yang bisa dipastikan adalah mayoritas capex tahun depan adalah untuk penyelesaian pengembangan proyek Awak Mas,” katanya.
Proyek ini menjadi penopang utama strategi INDY untuk memperoleh 50% pendapatan dari bisnis non-batubara pada 2028. Tambang emas INDY ini ditargetkan dapat beroperasi komersial pada kuartal I-2027.
“Tadi kita sampaikan adalah di quarter 4 end of 2026 itu kita akan mulai trial produksi. Sehingga tahun 2027 semuanya bisa berjalan sesuai yang kita rencanakan dan tentunya akan mulai menghasilkan,” jelasnya.
Proyek Awak Mas dikembangkan melalui PT Masmindo Dwi Area, yang mengantongi izin tiga area tambang, Awak Mas, Tarra, dan Salu Bulo, seluruhnya berlokasi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Total konsesi mencapai 14.390 hektare, dengan area pengembangan saat ini seluas 1.444 hektare.
Masmindo memegang Kontrak Karya (CoW) hingga 2050 dan dapat diperpanjang dengan rezim IUP-K sampai 2070. Saat ini proyek berada pada tahap konstruksi dan ditargetkan memasuki uji coba produksi (trial production) pada Desember 2026.
Metode penambangan akan menggunakan sistem open pit, sedangkan proses pengolahan dirancang memakai teknologi carbon in leach (CIL).
Proyek Awak Mas memiliki potensi sumber daya emas sebesar 2,55 juta ons, dengan cadangan terbukti dan terukur mencapai 1,51 juta ons. Kualitas bijih emasnya berada pada kadar 1,37 gram per ton, dengan target produksi tahunan sekitar 100 ribu ons.
Dari sisi biaya operasional, estimasi cash cost di area pit mencapai lebih dari US$1.150 per ons, sementara kebutuhan sustaining capital diperkirakan sekitar US$50 per ons. Adapun skema royalti pemerintah dapat mencapai tarif tertinggi 16% apabila harga emas berada di atas US$3.000 per ons.
Proyeksi Harga Emas dan Rencana DMO Pemerintah
Indika Energy menyampaikan pandangan optimistis terhadap prospek harga emas dalam beberapa tahun ke depan. Berdasarkan evaluasi kondisi pasar global, perusahaan memperkirakan harga emas akan bergerak pada kisaran US$4.000–US$4.200 per ons pada 2026 dan seterusnya, meski diakui ada banyak faktor eksternal yang dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas tersebut.
Dengan asumsi harga mencapai US$4.200 per ons, produksi awal Awak Mas diproyeksikan berada di 100.000 ons per tahun, sebelum meningkat menjadi sekitar 150.000 ons pada 2028. Kenaikan produksi ini dinilai akan memperkuat kinerja keseluruhan perseroan.
Terkait rencana pemerintah menerapkan kewajiban pasokan dalam negeri (domestic market obligation / DMO) untuk emas, perusahaan menegaskan akan mengikuti setiap ketentuan yang dirumuskan regulator.
“Dan harapannya adalah semuanya sesuai rencana dan secara prinsip apapun ketentuan pemerintah yang ada termasuk dengan DMO kita akan mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada,” kata dia.
Manajemen menyatakan terus memantau perkembangan regulasi dan siap menyesuaikan operasional apabila kebijakan tersebut ditetapkan.
(dhf)





























