“Saya juga belum dapat update-nya [penurunan produksi smelter nikel akibat peristiwa tersebut],” tegas Tri.
Sebelumnya, Wamen ESDM Yuliot Tanjung membenarkan telah menerjunkan tim dari Ditjen Minerba untuk mengecek peristiwa tersebut. Hanya saja, Yuliot enggan menerangkan ihwal hasil pemeriksaan tumpukan tailing di IMIP tersebut.
“Direktur Teknik Lingkungan Minerba lagi turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” kata Yuliot ditemui awak media di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (25/11/2025).
Dilansir Bloomberg News, penyimpanan tailing pabrik di IMIP belakangan hampir penuh, yang membuat laju produksi sejumlah smelter ditahan.
Misalkan, produksi dari smelter PT QMB New Energy Materials Co. Ltd. dilaporkan akan lebih rendah setidaknya selama dua pekan, menurut sumber yang meminta untuk tidak disebutkan namanya gegara permasalahan pengelolaan limbah industri nikel tersebut.
QMB dikendalikan oleh GEM Co. dan Tsingshan Holding Group Co. dari China di antara para pemegang sahamnya. Seorang perwakilan dari Kawasan Industri Morawali Indonesia mengonfirmasi pengurangan laju produksi kepada Bloomberg.
Penyimpanan tailing pabrik di dalam kawasan hampir penuh, dan dokumen untuk lokasi lain masih diproses, tambah perwakilan tersebut.
Bloomberg Technoz telah meminta tanggapan manajemen IMIP dan Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, tetapi tak kunjung mendapatkan respons.
Sebagai catatan, pada awal tahun ini IMIP juga sempat menghadapi permasalahan pengelolaan limbah industri nikel. Salah satu persoalan yang ditemukan, terdapat timbunan slag nikel dan tailing tanpa izin seluas lebih dari 10 ha dengan volume diduga lebih dari 12 juta ton.
Selain itu, terjadi longsor di area penyimpanan tailing atau Tailings Storage Facility (TSF) di kawasan IMIP pada Maret 2025. Tiga pekerja kontraktor meninggal dunia akibat insiden tersebut dan satu pekerja selamat.
(azr/wdh)






























