Diketahui Patrick Walujo memilih resign menjelang RUPSLB dan perseroan telah menunjuk kandidat pengganti, Hans Patuwo (sebelumnya menjabat Chief Operating Officer/COO), untuk mendapat pengesahan dari pemegang saham pada 17 Desember mendatang.
Patrick adalah sosok kawakan di dunia investment banking dan merupakan pendiri dari Northstar Group. Dan, selama Patrick berperan sebagai CEO, GoTo untuk pertama kalinya meraih laba.
Bloomberg News pada 11 November silam melaporkan bahwa menurut beberapa sumber, pemegang saham terus mendesak manajemen agar menyingkirkan Patrick dari kursi nomor satu perseroan. Salah satu alasannya adalah kinerja saham GOTO buruk sepanjang Patrick menjabat CEO sejak pertengahan 2023.
Tujuannya hanya satu memperlancar proses diskusi merger Grab dengan GoTo. Sumber yang sama menegaskan bahwa Patrick adalah salah satu sosok yang menentang ‘perkawinan’ dua Super-Apps ini.
Wong bersama analis Citigroup lain, Ryan Davis, menambahkan “transisi ini dapat menandakan pergeseran fokus ke operasional dan menghidupkan kembali merger Grab-GoTo yang tertunda lama,” dilaporkan Bloomberg News.
Grab maupun GoTo terus membantah kabar pembicaraan potensi merger keduanya. Menurut Sekeretaris perusahaan GOTO R A Koesoemohadiani, isu yang berkembang berdasarkan spekulasi. Tirza Munusamy, Chief of Public Aff airs Grab Indonesia menambahkan bahwa isu merger tersebut bagian dari spekulasi yang tidak berdasarkan informasi terverifikasi.
Kepentingan Pemerintah RI Ikut Diskusi Merger GoTo-Grab
Bagi pengamat pasar modal dan Guru Besar FEB UI, Budi Frensidy, pelibatan Danantara atas diskusi merger erat kaitannya kepentingan pemerintah Presiden Prabowo Subianto menyelamatkan investasi Telkom yang sebelumnya telah masuk di GoTo.
“Ini [bagian dari] penyelamatan kerugian investasi negara yakni Telkom dalam GoTo,” jelas Budi kepada Bloomberg Technoz. Dugaan lainnya adalah faktor keterlibatan bisnis dua startup “decacorn” ini pada mitra ojol dan mitra merchant.
“Jadi dua alasan itu yang menyebabkan Istana merasa berkepentingan masuk terlibat dalam keputusan merger antara GoTo dengan Grab.”
Untuk diketahui bahwa pemerintahan secara terang menyampaikan bahwa mereka tengah terlibat dalam pembicaraan rencana aksi korporasi tersebut, seperti disampaikan Mensesneg Prasetyo Hadi pada 7 November silam.
Prasetyo menilai bahwa penggabungan dua perusahaan ini masuk dalam pembahasan Perpres perihal tarif dan perlindungan mitra ojek online. Prasetyo juga menyatakan terbuka peluang aksi merger Grab-GoTo melibatkan Danantara.
“Dalam hal ini macam-macam karena kemudian ada juga Danantara juga ikut terlibat disitu karena ada proses korporasinya juga yang menjadi bagian dari yang dibicarakan gitu.”
Berdasarkan catatan, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) berinvestasi di GoTo melalui anak usahanya, Telkomsel. Gelontoran dana investasi dilakukan beberapa tahap sejak November 2020 dengan total nilai penempatan sekitar Rp6,4 triliun.
Per kuartal ketiga 2025 TLKM menyatakan nilai wajar investasi atas GoTo masing-masing Rp54/saham dan Rp66/saham dengan potensi unrealized loss secara outstanding masing-masing sebesar Rp380 miliar dan Rp474 miliar. “Nilai ini disajikan sebagai kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi dalam laporan laba rugi konsolidasian,” tulis TLKM.
(fik/wep)































