Dalam video yang diunggah di akun Facebook-nya, Co menegaskan kembali tuduhannya bahwa Marcos menerima suap sebesar 100 miliar peso (US$1,7 miliar) dari anggaran proyek yang diduga diperintahkan presiden untuk dimasukkan ke dalam anggaran 2025. Kantor Marcos menyebut tuduhan Co sebagai "propaganda."
Dalam video lain yang dirilis pada Senin, Co mengatakan sejak 2022 hingga 2025, dia mengatur suap hingga 56 miliar peso dari proyek pengendalian banjir agar diberikan kepada Marcos dan anggota Kongres Martin Romualdez.
"Romualdez sendiri mengatakan kepada saya bahwa dia dan Presiden Marcos akan membagi uang itu," beber Co dalam video tersebut.
Romualdez, sepupu Marcos yang sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan Ketua DPR, belum membalas permintaan untuk mengomentari klaim Co. Sebelumnya, Romualdez membantah tuduhan Co terhadapnya, mengatakan, "hati nurani saya tetap bersih."
"Siapa pun bisa online dan membuat segala macam klaim, serta mengatakan segala macam hal, berulang-ulang. Namun, itu tidak berarti apa-apa," ujar Marcos menanggapi tuduhan terbaru dari Co. "Buktikan saja, tapi pulanglah."
Pemerintahan Marcos memperkuat upaya untuk meminta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat dalam skandal korupsi bernilai miliaran dolar seputar proyek-proyek pengendalian banjir di salah satu negara paling rawan topan di dunia.
Skandal, yang pertama kali diungkap Marcos pada Juli, ini memicu kemarahan publik, menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat tajam pada kuartal III-2025, dan melemahkan baik peso maupun saham. Pekan lalu, dua menteri kabinet Marcos diganti karena pemerintah berusaha memulihkan kepercayaan publik dan investor.
Marcos memperingatkan terduga tersangka untuk menyerahkan diri kepada pihak berwenang dan menghadapi tuduhan yang dijatuhkan pada mereka. Pihak-pihak yang mencoba melindungi mereka akan bertanggung jawab pada otoritas karena melindungi "buronan dari keadilan," tukasnya.
(bbn)































