Logo Bloomberg Technoz

Sejauh ini hanya tiga mata uang Benua Kuning yang mampu menguat, itu pun sangat terbatas. Mereka adalah ringgit Malaysia (0,08%), dolar Hong Kong (0,01%), dan dolar Taiwan (0,01%).

Mata Uang Asia vs Dolar AS (Sumber: Bloomberg)

Apa mau dikata, dolar AS memang sedang perkasa. Pagi ini, Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,05% ke 100,23.

Dollar Index pun menyentuh posisi tertinggi sejak 19 Mei atau lebih dari enam bulan terakhir.

Dollar Index (Sumber: Bloomberg)

Investor sepertinya sedang memasang mode berhati-hati. Gejolak di pasar akhir-akhir ini membuat pelaku pasar ragu untuk bertindak agresif.

“Melihat apa yang terjadi pekan lalu, dengan kemungkinan volatilitas yang lebih tinggi dalam beberapa hari ke depan, bisa dipahami kalau investor tidak terlalu berani,” kata Nick Twidale, Chief Market Analyst di AT Global Markets, seperti diberitakan Bloomberg News.

Salah satu yang menjadi beban pikiran pelaku pasar adalah arah kebijakan moneter di AS. Setelah sempat pudar, kini optimisme terhadap penurunan suku bunga acuan kembali meningkat.

Optimisme tersebut datang dari pernyataan Gubernur Bank Sentral AS (Federal Reserve) New York John Williams. Akhir pekan lalu, Williams menegaskan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan masih terbuka dalam waktu dekat.

“Saya melihat kebijakan moneter saat ini agak restriktif. Oleh karena itu, saya rasa ada ruang untuk penyesuaian suku bunga acuan menuju posisi (stance) yang cenderung netral,” katanya dalam sebuah acara di Santiago, Chile, seperti diberitakan Bloomberg News.

Pernyataan Williams sepertinya efektif untuk mengubah mood di pasar. Kini investor melihat ada kemungkinan yang cukup besar bahwa suku bunga acuan bisa turun bulan depan.

Mengutip CME FedWatch, probabilitas Federal Funds Rate turun 25 basis poin (bps) menjadi 3,5-3,75% dalam rapat Desember adalah 69,4%. Seminggu yang lalu, peluangnya adalah 44,4%.

Namun, sepertinya peluang penurunan Federal Funds Rate masih sangat dinamis. Sebab, pejabat The Fed lain punya pandangan yang berbeda.

Susan Collins, Gubernur The Fed Boston, mengaku belum bisa memutuskan mau diapakan suku bunga acuan pada Desember.

“Saya belum membuat keputusan. Masih ada berbagai data yang akan masuk,” tegasnya, juga dinukil dari Bloomberg News.

Sebelum ada petunjuk lebih lanjut soal arah suku bunga acuan di Negeri Adidaya, sepertinya pelaku pasar masih akan waspada. Kewaspadaan ini kemudian dituangkan dengan menghindari aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia. Akibatnya, rupiah kembali terperosok ke jalur merah.

(aji)

No more pages