Kendatipun begitu, secara umum nilai tukar rupiah masih berada dalam tren negatif. Selama seminggu perdagangan, nilai rupiah hanya menguat terbatas 0,02 % secara point–to–point.
Dalam sebulan, rupiah pun melemah 0,66%.
Pelemahan rupiah tersengat pudarnya harapan penurunan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve dalam rapat Desember. Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin (bps) pada rapat Desember tinggal 36,9%.
Sementara itu, kemungkinan suku bunga acuan ditahan mencapai 63,1%.
Laporan payrolls September menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang solid dan tingkat pengangguran yang lebih tinggi akibat meningkatnya partisipasi angkatan kerja — yang kemungkinan menandakan pertumbuhan pendapatan yang stabil.
Megan O'Neil dari periset Bloomberg Economics menyebut, data nonfarm payrolls untuk September yang tertunda tidak memperkuat argumen untuk pemotongan suku bunga The Fed pada Desember.
“Di satu sisi, payrolls menunjukkan jumlah penambahan pekerjaan lebih dari dua kali lipat dibandingkan konsensus; di sisi lain, data payrolls sebelumnya direvisi turun — dengan angka Agustus berubah menjadi negatif — dan tingkat pengangguran meningkat,” jelas Megan.
Saat suku bunga mungkin belum turun, maka berinvestasi di aset-aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) masih akan menarik. Ini membuat dolar AS masih menjadi primadona di pasar keuangan global.
(fad)



























