Logo Bloomberg Technoz

Sentimen pasar global terpantau masih kalem dengan para investor mulai memperhitungkan ekspektasi pelonggaran tambahan oleh Federal Reserve, seiringan dengan proyeksi pasar tenaga kerja AS yang lesu.

Adam Linton, periset Bloomberg News, memaparkan pasar akan kesulitan menilai kondisi sebenarnya dari pasar tenaga kerja AS dalam waktu dekat. Klaim tunjangan pengangguran naik, sejalan dengan sinyal-sinyal dari data tingkat negara bagian yang menunjukkan pelemahan berkelanjutan.

Pasar tampaknya cenderung menantikan sinyal-sinyal lanjutan dari pelemahan pasar tenaga kerja, yang dapat memperkuat ekspektasi terhadap satu lagi pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral Federal Reserve (The Fed), seperti yang disinggung oleh Anggota Dewan Gubernur Christopher Waller.

Chris G. Collins, analis Bloomberg Economics, menuturkan risalah rapat The Fed periode Oktober diproyeksikan menyoroti meningkatnya kehati-hatian di antara para pembuat kebijakan, dengan lebih banyak pejabat melihat alasan untuk mengambil pendekatan yang lebih terukur dalam pemangkasan suku bunga, seiring kebijakan mendekati posisi yang lebih netral sementara inflasi masih berada di atas target. 

“Kendati demikian, kami tetap memperkirakan Komite akan melakukan satu kali pemangkasan lagi pada Desember di tengah pelemahan pasar tenaga kerja dan prospek inflasi yang relatif tidak berubah,” jelas Collins.

BI Rate Bakal Ditahan

Siang hari ini di Jakarta, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia akan menggelar taklimat media mengumumkan hasil keputusan pertemuan bulanan.

Konsensus yang dihimpun oleh Bloomberg dari 34 institusi sampai Rabu pagi ini, menghasilkan angka median 4,75%. Para ekonom yang disurvei secara bulat memprediksi BI akan mempertahankan BI Rate di level saat ini 4,75%.

Tamara Mast Henderson dari Bloomberg Intelligence. Menurutnya, BI masih akan mengambil waktu untuk melihat bagaimana transmisi pelonggaran moneter yang sudah dilakukan.

Sebagai informasi, BI Rate sudah turun 125 basis poin (bps) sepanjang tahun ini. Suku bunga acuan menyentuh titik terendah sejak 2022.

“Suku bunga simpanan di perbankan hanya sedikit berubah sejak Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober, di mana kala itu BI menyuarakan soal transmisi kebijakan moneter. Langkah BI mempertahankan suku bunga acuan bulan lalu juga meredakan kecemasan pasar perihal independensi bank sentral,” sebut Henderson dalam risetnya.

BI juga harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sejak RDG Oktober, rupiah melemah 0,9% terhadap dolar AS, menjadi yang terlemah di level Asia Tenggara.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, maka arus modal keluar (capital outflow) perlu diredam. Di pasar obligasi, investor asing masih dalam posisi menjual Surat Berharga Negara (SBN).

“Perbedaan imbal hasil (yield) dengan obligasi pemerintah AS relatif rendah, sehingga butuh intervensi untuk membuat rupiah tetap stabil. Ini yang kemudian membuat cadangan devisa menurun, meski tetap di level yang memadai,” tutur Henderson.

Analisis Teknikal

Secara teknikal nilai rupiah berpotensi bangkit meski masih di kisaran sempit. Rupiah berpotensi menguat terbatas hari ini menuju resistance terdekat di level Rp16.720/US$, lalu ada resistance potensial di Rp16.700/US$ dan Rp16.680/US$ sebagai level paling optimistis dalam time frame harian.

Sementara itu, rupiah memiliki level support psikologis di Rp16.770/US$ dan Rp16.800/US$. Apabila level ini berhasil tembus, maka mengkonfirmasi laju support lanjutan kembali ke level Rp16.850/US$ dalam jangka pendek.

(fad/aji)

No more pages