Menurutnya, BPOM berperan memastikan seluruh rantai penanganan berjalan aman, mulai dari ketersediaan obat hingga pengawasan keamanan produk yang berpotensi terdampak kasus kontaminasi.
Taruna menyebut pemerintah memandang serius kasus ini karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat sekaligus menimbulkan dampak pada keamanan produk Indonesia di pasar global.
Ia menegaskan BPOM akan terus memperkuat koordinasi lintas lembaga untuk memastikan penanganan kasus Cs-137 berjalan komprehensif dan menyeluruh. “Kita mau memastikan peringatannya hilang. Kami bekerja untuk kepentingan nasional,” ujarnya.
9 Warga Terpapar Radioaktif Pada Oktober Lalu
Taruna menjelaskan bahwa sejumlah warga telah terdeteksi memiliki jejak Cs-137 dalam pemeriksaan darah. Temuan itu, kata dia, menandakan paparan sudah mencapai level yang dapat memengaruhi pembentukan sel di sumsum tulang, sehingga diperlukan penanganan segera menggunakan antidot khusus.
"Dari sembilan orang yang terdeteksi itu, kami sudah memberikan antidotnya," kata Taruna.
Menurutnya, antidot bekerja sebagai penangkal yang membantu proses pengikatan dan pembuangan zat radioaktif dari tubuh. Dalam kasus Cs-137, mekanisme kerja obat berkaitan dengan interaksi isotop tersebut dengan klor, sehingga membantu mempercepat eliminasi dalam sistem tubuh.
(dec/del)






























