Logo Bloomberg Technoz

ICBP Tertekan di Semua Lini, Tantangan di Margin dan Rugi Kurs

Artha Adventy
11 November 2025 16:00

Rak berisi mie instan produk Indofood CBP milik grup Salim Indofood di pasar swalayan. (Dok Dimas Ardian/Bloomberg)
Rak berisi mie instan produk Indofood CBP milik grup Salim Indofood di pasar swalayan. (Dok Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kinerja emiten Grup Salim PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) terus menghadapi tekanan berat hingga kuartal III-2025. Laba bersih perusahaan anjlok 12,8% secara tahunan menjadi Rp7,1 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh rugi kurs besar, margin yang menyempit, serta biaya produksi yang melonjak di tengah pelemahan rupiah.

Mengutip laporan keuangan, laba bersih ICBP turun 12,8% yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp8,15 triliun. Penurunan ini terjadi meski penjualan bersih naik tipis 1,4% menjadi Rp56,26 triliun, seiring melemahnya permintaan domestik dan kenaikan biaya bahan baku.

Laba bruto ikut terkoreksi 3,5% menjadi Rp19,90 triliun, setelah beban pokok penjualan melonjak ke Rp36,36 triliun dari Rp34,84 triliun tahun lalu. Di saat yang sama, beban keuangan hampir dua kali lipat menjadi Rp3,01 triliun dari Rp1,54 triliun, terutama karena rugi selisih kurs mencapai Rp1,43 triliun, berbalik dari keuntungan pada tahun sebelumnya.


Dalam riset terbarunya, Sinarmas Sekuritas memaparkan rugi selisih kurs membuat margin laba bersih turun dari 14,7% menjadi hanya 12,6%. Kinerja ini menjadi yang paling lemah dalam tiga tahun terakhir. Sementara penjualan yang hanya naik tipis sementara beban penjualan naik membuat gross margin terkikis menjadi 35,4% dari 37,2% pada tahun sebelumnya.

Kenaikan harga bahan baku, terutama kentang dan minyak nabati, menjadi faktor utama pelemahan margin. Sinarmas menilai lonjakan biaya impor dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS membuat tekanan di sisi produksi semakin besar, terutama bagi segmen mi instan dan dairy.