Gejalanya bisa berupa nyeri sendi berpindah-pindah, ruam kemerahan, sesak napas, hingga gerakan tubuh tidak terkendali seperti menari (khorea sydenham).
Ketua UKK Kardiologi IDAI, Dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), mengungkapkan Indonesia masih termasuk wilayah endemis PJR dengan angka kematian mencapai 4,8 per 100.000 penduduk—lebih tinggi dibandingkan malaria.
“Hanya enam dari sepuluh anak yang mampu bertahan hidup setelah delapan tahun didiagnosis PJR. Sebagian besar kasus ditemukan saat kerusakan sudah lanjut,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam penanganan PJR adalah rendahnya deteksi dini, kurangnya kepatuhan pasien terhadap terapi pencegahan, serta terbatasnya pasokan antibiotik Benzatin Penisilin G (BPG)—obat suntik yang menjadi tulang punggung pencegahan kekambuhan penyakit ini.
“Padahal suntikan BPG rutin tiap tiga hingga empat minggu dapat mencegah kerusakan jantung lebih parah,” kata Rizky.
IDAI menegaskan pentingnya dua lapis pencegahan. Pencegahan primer dilakukan dengan mengobati infeksi tenggorokan hingga tuntas, menjaga kebersihan, serta memperbaiki sanitasi rumah dan sekolah.
Sementara pencegahan sekunder dilakukan lewat pemberian suntikan BPG secara teratur bagi anak yang sudah terdiagnosis DR atau PJR.
Dr. Rizky juga mendorong pemerintah membentuk program skrining dan registri nasional agar kasus DR dan PJR bisa terdeteksi lebih awal. “Penyediaan BPG harus dijamin di seluruh fasilitas kesehatan primer hingga tersier,” ujarnya.
Kondisi sanitasi dasar masih memperparah situasi. Data WASHActs (2025) menunjukkan 1,5 juta anak Indonesia belum memiliki akses mencuci tangan dengan sabun di sekolah, sementara 58% sekolah belum memiliki fasilitas sanitasi memadai.
“Melalui kolaborasi antara orang tua, guru, tenaga medis, dan pemerintah, kita bisa menekan angka PJR di Indonesia,” tutup Dr. Piprim.
(dec)






























