Logo Bloomberg Technoz

“Secara medium term, nikel masih melemah di dasar konsolidasi nya pascarekor sekitar U$60.000/ton. Harga diproyeksikan di bawah tekanan atau cenderung serupa disebabkan surplus produksi Indonesia, produksi berpotensi meningkat didongkrak hilirisasi,” kata Wahyu ketika dihubungi, Jumat (7/11/2025).

Pergerakan harga nikel./dok. Bloomberg

Tiga Faktor

Wahyu menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan harga nikel tersebut. Pertama, produksi nikel dari Indonesia yang melampaui pertumbuhan permintaan global membuat harga masih tertekan.

Kedua, upaya pemerintah Indonesia membatasi penambangan nikel melalui penyesuaian rencana kerja anggaran dan biaya (RKAB) untuk menstabilkan harga juga bisa memengaruhi pergerakan harga nikel tahun depan.

Ketiga, permintaan nikel untuk baterai mobil listrik dalam jangka panjang masih terbilang potensial. Terlebih, kata Wahyu, terdapat kemungkinan adanya pembatasan ekspor teknologi baterai lithium ferro phosphate (LFP) oleh China yang bisa kembali menguatkan permintaan baterai berbasis nikel.

“Produksi nikel Indonesia diproyeksikan akan tetap berada pada tingkat yang sangat tinggi dan bahkan berpotensi meningkat pada 2026,” tegas dia.

Nikel dilego di harga US$15.038/ton pada di London Metal Exchange (LME) hari ini, naik tipis 0,02% dari penutupan sebelumnya..

Harga nikel sempat mencapai rekor di atas US$100.000/ton pada Maret 2022 akibat short squeeze pasar, tetapi sejak itu harga menurun tajam.

Sepanjang 2024, harga menyentuh rekor terendah dalam 4 tahun terakhir setelah sebelumnya diproyeksikan mencapai US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton, menurut lengan riset dari Fitch Solutions Company, BMI.

Gejala ambruknya harga nikel sudah terdeteksi sejak 2023. Rerata harga saat itu berada di angka US$21.688/ton atau terjun bebas 15,3% dari tahun sebelumnya US$25.618/ton. Kemerosotan itu dipicu oleh pasar yang terlalu jenuh ditambah dengan lesunya permintaan.

Sekadar catatan, pemerintah pada Agustus 2024 resmi menetapkan RKAB nikel sebanyak 240 juta ton bijih pada 2024.

Selain itu, periode 2024—2026, Kementerian ESDM juga telah menyetujui sebanyak 292 permohonan RKAB pertambangan nikel, tetapi hanya 207 di antaranya yang diizinkan berproduksi.  

Saat ini, proses pelaporan RKAB sedang berlangsung sejak 1 Oktober 2025 hingga 15 November 2025. Dalam aturan terbaru, penambang akan melaporkan kembali RKAB untuk 2026 meskipun sudah disetujui, sebab kini RKAB dilaporkan per 1 tahun tak lagi setiap 3 tahun.

(azr/wdh)

No more pages