Logo Bloomberg Technoz

Pacu Biofuel Buat Redam Anomali Minyak, Infrastruktur RI Tak Siap

Azura Yumna Ramadani Purnama
16 March 2026 11:50

Seorang rekan peneliti mengambil sampel alga yang dibudidayakan untuk penelitian biofuel./Bloomberg-David Maung
Seorang rekan peneliti mengambil sampel alga yang dibudidayakan untuk penelitian biofuel./Bloomberg-David Maung

Bloomberg Technoz, Jakarta – Kelompok Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (K3EPB) Universitas Indonesia menilai infrastruktur pengembangan bahan bakar nabati atau biofuel belum siap siap di seluruh wilayah Indonesia, sehingga masih dibutuhkan percepatan pembangunan infrastruktur pengolahan biodiesel maupun bioetanol.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), padahal, sedang berencana mempercepat pengingatan bauran bahan bakar nabati seperti B50 hingga E20 yang dilakukan sebagai upaya mitigasi kenaikan harga dan pengetatan pasokan minyak dunia.

Ketua K3EPB UI Ali Ahmudi menyatakan tengah melakukan kajian untuk program B50. Saat ini terdapat 22 provinsi dan 92 titik serap yang disurvei K3EPB untuk mengetahui keandalan fasilitas pengolahan dan distribusinya.


“Jadi memang problem kita ini kan banyak ya untuk hal-hal begini. Jadi kalau kita lihat secara konsep itu bagus-bagus tuh yang sudah ada. Akan tetapi, ketika implementasinya sulit. Kenapa? Ya kalau sudah bicara skala negara kan enggak semudah itu. Pertama, infrastrukturnya memadai apa tidak?" kata Ali ketika dihubungi, Senin (16/3/2026).

Kapasitas kilang biofuel di Indonesia./dok. BMI

Tersentral di Jawa