Asing Kembali Masuk, US$782 Juta Balik ke Pasar Saham RI
Redaksi
05 November 2025 11:00

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar saham Indonesia kembali menunjukkan denyut optimisme setelah sempat tertekan akibat ketatnya likuiditas global. Berdasarkan laporan riset terbaru Macquarie, investor asing tercatat sebagai pembeli bersih (net buyer) dengan nilai mencapai US$782 juta sepanjang Oktober 2025. Angka tersebut berbalik tajam dari posisi jual bersih sebesar US$234 juta pada bulan September, menandai perubahan arah sentimen yang cukup signifikan.
Dengan adanya arus masuk tersebut, total outflow year-to-date kini menyusut menjadi sekitar US$2,5 miliar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia mulai pulih, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Analis pasar modal Macquarie, Ari Tjahja, menyebutkan bahwa perkembangan ini dapat menjadi titik balik bagi pasar domestik setelah periode tekanan yang panjang. “Emiten-emiten dengan fundamental kuat mulai kembali berkinerja baik, terutama saham-saham konsumer adalah yang menjadi sorotan positif,” tulis Ari dalam laporan risetnya, dikutip Rabu (5/11).
Sektor Konsumer Jadi Bintang, Kepercayaan Investor Mulai Pulih
Sektor konsumer menjadi sorotan utama di tengah derasnya aliran modal yang kembali masuk. Menurut Macquarie, saham-saham di sektor ini menunjukkan kinerja solid berkat stabilnya daya beli masyarakat dan prospek ekonomi yang tetap positif menjelang akhir tahun. Para investor, baik asing maupun domestik, memandang sektor ini sebagai tempat aman (safe haven) di tengah ketidakpastian global.
Selain sektor konsumer, industri manufaktur juga menunjukkan sinyal positif. Arus modal asing yang kembali masuk turut memperkuat optimisme terhadap pemulihan sektor ekspor dan industri pengolahan. Aktivitas investasi baru dan peningkatan utilisasi pabrik menjadi bukti bahwa pelaku industri mulai kembali percaya diri menghadapi kuartal IV 2025.
Namun demikian, sektor keuangan masih mencatatkan arus keluar bersih (net outflow). Investor tampak berhati-hati terhadap kinerja perbankan, terutama dengan adanya potensi tekanan margin bunga akibat kebijakan suku bunga global yang tinggi. Di sisi lain, investor domestik menunjukkan ketertarikan pada saham-saham tembakau, yang dinilai memiliki valuasi menarik dan potensi dividen stabil.
Dalam analisis makronya, Macquarie menekankan pentingnya percepatan realisasi belanja fiskal pemerintah untuk menjaga momentum ekonomi. “Fiskal yang agresif tetap krusial untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya di tengah moderasi permintaan eksternal,” ujar Ari Tjahja.
Langkah pemerintah dalam mempercepat penyerapan anggaran, terutama untuk infrastruktur dan program sosial, diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat sekaligus menstimulasi pertumbuhan konsumsi domestik. Kombinasi antara fiskal ekspansif dan arus modal asing yang kembali positif dinilai dapat memberikan dorongan tambahan bagi pasar saham hingga akhir tahun.
Buyback Emiten Besar Angkat Sentimen Pasar
Laporan Macquarie juga menyoroti sisi korporasi yang semakin kondusif. Dari hasil riset terhadap emiten yang berada dalam cakupan analisis mereka, hanya 34% perusahaan yang mencatatkan hasil di bawah ekspektasi pada kuartal III-2025. Capaian tersebut menunjukkan ketahanan kinerja korporasi Indonesia di tengah tekanan ekonomi global.
Sentimen pasar turut didukung oleh rencana pembelian kembali saham (buyback) dari beberapa emiten besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Astra International (ASII), dan United Tractors (UNTR). Aksi korporasi tersebut dinilai sebagai sinyal kuat bahwa manajemen perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang bisnisnya.
Ari menilai, aksi buyback tersebut memberikan efek psikologis positif bagi investor. “Langkah ini mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap nilai fundamental mereka sendiri dan memberi sinyal positif bagi pasar secara keseluruhan,” tulisnya.
Danantara Jadi Katalis Likuiditas Baru di Pasar Publik
Selain faktor eksternal dan korporasi, laporan Macquarie juga menyoroti potensi besar dari langkah Danantara dalam menyalurkan modal ke pasar publik. “Pasar akan mencermati dengan seksama strategi penempatan modal Danantara, karena dapat berperan sebagai jangkar likuiditas baru bagi aset domestik,” jelas Ari.
Kehadiran Danantara dinilai akan memperkuat ekosistem investasi di pasar modal Indonesia, khususnya dalam menyalurkan dana jangka panjang yang dibutuhkan untuk memperkuat likuiditas dan stabilitas harga saham.
Secara keseluruhan, Macquarie menilai bahwa dengan arus modal asing yang kembali positif, kinerja sektor konsumer yang menguat, serta dukungan fiskal pemerintah yang berpotensi ekspansif, pasar saham Indonesia memiliki peluang menutup tahun 2025 dengan nada optimistis.
Meski demikian, Ari mengingatkan bahwa dinamika global seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Namun untuk saat ini, arah pergerakan pasar menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia mulai menguat kembali — dan momentum ini dapat menjadi pijakan baru menuju pemulihan yang lebih berkelanjutan.






























