Logo Bloomberg Technoz

Dengan itu, pelemahan rupiah menjadi yang terdalam ke–empat di Asia setelah peso dan won, serta dolar Taiwan.

Mata Uang Asia vs Dolar AS (Bloomberg)

Pelemahan rupiah yang hanya tipis saja, terjadi ketika data ekonomi Kuartal III–2025 memantik optimisme, seperti yang dipaparkan Hosianna Evalita Situmorang, Ekonom Bank Danamon Indonesia sebelumnya, ia menyebut perekonomian Indonesia mulai merasakan angin segar dari berbagai stimulus fiskal, pelonggaran moneter, dan percepatan belanja negara.

“Dasarnya sudah lebih kuat untuk menjadi pijakan permintaan domestik dan pertumbuhan ekonomi Kuartal IV-2025. Momentum ini akan berlanjut sampai awal 2026,” tegasnya, mengutip Bloomberg News.

Namun memang, belum berhasilnya berbalik arah ke zona penguatan rupiah kemungkinan karena faktor pasar global yang masih amat membayangi, menyusul kembali bangkitnya indeks dolar AS.

Dolar AS memang sedang digdaya. Kemarin, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,35% ke 100,224.

DXY menguat ke level tertingginya sejak Mei, sekaligus menandai kenaikan hari kelima berturut–turut, hingga siang hari ini, dolar AS masih 'ganas' di zona harga tertinggi 100,168.

DXY Menguat Tajam (Bloomberg)

Lonjakan DXY didorong oleh sentimen risk–off di pasar global imbas penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) yang sampai dengan hari ini menjadi yang terlama dalam sejarah.

Reli harga yang lebih kuat terjadi di pasar saham menyusul data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi. IHSG ditutup menguat 0,93% di level 8.318, keberhasilan penguatan ini sekaligus tercapainya rekor tertinggi baru sepanjang sejarah, All Time High/ ATH.

Capaian growth pada Kuartal III–2025 itu didukung oleh pertumbuhan positif nyaris di semua lapangan usaha. Bersamaan dengan dari sisi pengeluaran, seluruh komponen bertumbuh. Kinerja perekonomian pada Kuartal III jufa ditopang konsumsi yang terjaga. Terlihat dari konsumsi per kapita jasa makanan–minuman–akomodasi serta barang dan jasa lainnya.

Ekonomi Indonesia Tumbuh di Atas Ekspektasi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal III-2025. Hasilnya sedikit lebih tinggi dan lebih baik dari estimasi pasar.

BPS mengumumkan ekonomi Indonesia yang dihitung dengan Produk Domestik Bruto (PDB) berada di Rp6.060 triliun berdasarkan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) pada kuartal III-2025. Artinya, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,04% dibanding periode yang sama tahun lalu (year–on–year/yoy).

Pencapaian ini sedikit lebih tinggi dari ekspektasi. Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg mengestimasikan pertumbuhan ekonomi Kuartal III–2025 sebesar 5% yoy.

Secara kuartalan (quarter–to–quarter/qtq), ekonomi Indonesia tumbuh 1,43%, serta di atas estimasi pasar/analis ataupun ekonom yang sebesar 1,4% qoq. Mayoritas lapangan usaha tumbuh, dengan pertumbuhan tertinggi pada Jasa Pendidikan, dari sisi pengeluaran, seluruh komponen tumbuh.

“Aktivitas produksi terjaga dengan PMI yang berada di zona ekspansif,” jelas Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud.

Realisasi investasi dalam negeri dan asing tumbuh 13,89% yoy. Mobilitas masyarakat juga meningkat.

“Kebijakan ekonomi juga menopang seperti pengendalian inflasi, penetapan BI Rate, serta kebijakan fiskal dalam mendorong efektivitas belanja,” tutur Edi.

(fad)

No more pages