Hal tersebut dilakukan, usai terdapat dua kargo impor BBM dasaran dengan volume total 200.000 barel yang tidak terserap atau tidak laku terjual ke operator SPBU swasta.
“Itu saya bilang tadi, kita tunggu. Karena kita nggak mau announce dulu kalau kayak kemarin kan sudah diomongin, enggak taunya ada kendala lagi. Jadi ini biar jalan dulu, nanti begitu kita sampaikan,” ungkap dia.
Serius Beli
Lebih lanjut, dia mensinyalir sudah terdapat operator SPBU swasta yang serius membeli BBM dasaran dari Pertamina Patra Niaga, terlebih sudah terdapat kapal kargo yang bergerak mengangkut BBM dasaran ke Indonesia.
Meskipun begitu, dia mengaku belum dapat mengungkapkan perkembangan negosiasi sebab untuk menghindari adanya kesalahan informasi yang disampaikan.
“Tapi hasil akhirnya seperti apa nanti kita tunggu. Dia [BBM] sampai dulu di SPBU-nya baru kita sampaikan. Tidak kayak kemarin,” ucap Laode.
Proses jual-beli BBM dasaran dari Pertamina kepada operator SPBU swasta dilakukan melalui mekanisme lelang, di mana masing-masing badan usaha mengajukan calon importir serta sumber pasokannya.
Namun, kini pembahasan dilakukan secara langsung antara Pertamina dan setiap badan usaha swasta, bukan lagi secara kolektif.
Perubahan ini dimaksudkan agar negosiasi berjalan lebih efektif, lantaran dalam mekanisme sebelumnya sebagian peserta justru mengundurkan diri di tengah proses.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebut kesepakatan tersebut akan tercapai pada Jumat (17/10/2025). Namun, hingga saat ini target itu belum terealisasi.
Dalam perkembangannya, PPN memastikan akan mengimpor BBM dasaran baru untuk dipasok ke operator SPBU swasta, meskipun sudah terdapat dua kargo base fuel yang didatangkan belum lama ini.
Akan tetapi, nantinya impor baru itu akan dilakukan setelah SPBU swasta benar-benar sepakat membeli BBM dasaran dari Pertamina.
Pj Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengungkapkan, setelah seluruh persyaratan pembelian BBM yang diajukan SPBU swasta telah disepakati bersama, maka perusahaan akan kembali mengimpor BBM dasaran baru.
Meskipun begitu, Roberth enggan memerinci apakah sejumlah aspek yang sebelumnya membuat operator SPBU swasta membatalkan pembelian BBM dari Pertamina sudah teratasi atau belum.
“Kalau overall kesepakatan deal maka kargo akan dikirim dan diterima di Indonesia, terkait dengan aspek dan proses yang dilalui masih berjalan,” kata Roberth ketika dihubungi, baru-baru ini.
Vivo sebelumnya membatalkan pesanan 40.000 barel base fuel karena isu kandungan etanol 3,5% yang terkandung dalam BBM dasaran, sedangkan BP-AKR menyoal ketiadaan certificate of origin.
Sebagai catatan, berdasarkan data Kementerian ESDM, PPN tercatat memiliki sisa kuota impor sebesar 34% atau sekitar 7,52 juta kiloliter (kl) untuk 2025.
Sementara itu, Pertamina Patra Niaga menyebut operator SPBU swasta membutuhkan tambahan pasokan BBM dengan RON 92 sebanyak 1,2 juta barel base fuel, serta RON 98 sejumlah 270.000 barel base fuel untuk mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun ini.
(azr/wdh)






























