Logo Bloomberg Technoz

Rupiah juga melemah ketika harga obligasi cenderung turun di mana yield SUN mayoritas menanjak. 

Mengacu data OTC Bloomberg, Kamis (23/10/2025), tingkat imbal hasil SUN di banyak tenor, bergerak naik yang mengindikasikan tekanan jual membesar hingga menurunkan harga obligasi pemerintah itu.

SUN tenor 5 tahun mencatat kenaikan yield 3,4 basis poin ke level 5,414%, lalu tenor 1 tahun kenaikan imbal hasil lebih tinggi sebesar 2,4 bps menjadi 4,813%. 

Begitu juga dengan tenor yang lebih panjang, yield SUN 10 tahun juga mencatat kenaikan 2,6 basis poin, bersama tenor 15 tahun juga naik 1,1 bps, yang masing–masing menjadi 5,993%, dan 6,348%.

Dolar AS terungkit lagi oleh isu penutupan sementara pemerintahan AS yang masih terus berlangsung, hingga belum ada tanda-tanda jalan keluar.

Mengutip Bloomberg News, pandangan rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) tidak akan secara signifikan mengubah ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed bulan ini. Selain itu, pasar juga menunjukkan bias hati–hati terhadap data ekonomi AS yang bersifat backward-looking serta kecemasan atas reliabilitas data resmi.

Bloomberg Economics mencatat, laporan inflasi CPI untuk bulan Oktober — yang dijadwalkan rilis pada pertengahan November — akan kehilangan sebagian besar data penting, sehingga akurasinya diperkirakan lebih rendah dari biasanya.

DXY Menguat (Bloomberg)

Mencermati penutupan sementara pemerintahan AS sejak 1 Oktober (US government shutdown) yang masih terus berlangsung. Seiring kebuntuan yang terus berlansung hingga memasuki minggu ketiga — menjadikannya penutupan pemerintahan terpanjang kedua dalam sejarah AS.

Presiden Donald Trump tampaknya masih absen dari agenda upaya negosiasi untuk menyelesaikan penutupan pemerintahan AS. Trump tampak mengambil pendekatan “Business as Usual.” Ia tetap menjalankan banyak agenda pertemuan dengan para pemimpin di Gedung Putih, disertai kalender perjalanan yang padat.

Presiden belum bertemu dengan para pemimpin Kongres dari Partai Demokrat sejak sebelum penutupan pemerintahan dimulai pada 1 Oktober, dan menunjukkan minat yang minim untuk turun tangan menengahi solusi bagi kebuntuan tersebut.

“Penutupan pemerintahan kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, ketika isu tersebut mendominasi pemberitaan sepanjang periode kebuntuan,” papar Rahm Emanuel, mantan Kepala Staf Gedung Putih pemerintahan Presiden Barack Obama.

“Kali ini, intensitasnya tidak benar–benar sama,” tambahnya.

Faktor lain yang membuat penutupan pemerintahan kali ini berlangsung lama adalah keyakinan kedua pihak — Republik dan Demokrat — masing-masing sedang “menang” dalam perseteruan opini publik.

(fad)

No more pages