Selain bioenergi, Bahlil mengklaim sedang mempercepat pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dan menggencarkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas total 100 gigawatt (GW).
Dia menyebut sepanjang tahun ini kementeriannya sudah meresmikan 26 pembangkit listrik dengan total kapasitas 3,2 GW. Dari total kapasitas tersebut, 89% diantaranya merupakan pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan (EBT).
Kemudian, Kementerian ESDM juga sudah meresmikan 55 PLTP dan PLTS dengan kapasitas total sebesar 379,7 megawatt (MW).
“Pemerintah melibatkan koperasi desa dalam transisi energi. Ekonomi dan ekologi tidak harus dipertentangkan, keduanya bersinergi menciptakan fondasi pembangunan yang berkelanjutan, inklusif, dan merata,” kata Bahlil.
Sebagai catatan, Kementerian ESDM membidik penghematan devisa melalui program mandatori biodiesel pada tahun ini senilai Rp147,5 triliun. Sebelumnya, penghematan devisa dari program B35 tahun lalu mencapai Rp122,98 triliun.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengklaim permintaan B40 kemungkinan besar akan melebihi kuota yang ditargetkan pemerintah pada tahun ini sebanyak 15,6 juta kl.
Eniya mengatakan, meski permintaan di atas ekspektasi, pemerintah masih melakukan kajian atas keberlanjutan program mandatori biodiesel tersebut.
“Jadi kajian untuk biodiesel keberlanjutannya seperti apa, tetapi saat ini B40 kan sudah berlangsung. Waktu itu kan sudah ada penambahan penggunaan dari dana BPDP untuk insentif kan. Permintaannya tuh [naik] terus,” ujarnya ditemui di JCC, Rabu (17/9/2025).
Menindaklanjuti kenaikan permintaan B40 tersebut, Eniya mengatakan Kementerian ESDM juga baru saja menerbitkan surat keputusan menteri (kepmen) untuk penetapan volume biodiesel tersebut.
“Nah, berikutnya pencapaiannya itu kira-kira lebih dari target yang kita tentukan, jadi ada kemungkinan melebihi target. Jadi kita kan 15,6 [juta kl]. Nah ini perkiraan pada Desember, sudah ada permintaan untuk nambah,” kata Eniya.
Dia tidak mengelaborasi berapa persisnya kenaikan permintaan untuk suplai B40 tersebut. Akan tetapi, dia menyebut tambahan permintaan dari pelaku industri bervariasi antara 100.000—200.000 kl.
Adapun, pendanaan biodiesel untuk program B40 pada tahun ini pada awalnya diproyeksikan sekitar Rp35,5 triliun, naik dari realisasi sepanjang 2023 senilai Rp26,23 triliun untuk menyokong program B35.
Alokasi ‘subsidi’ biodiesel B40 pada 2025 hanya dibatasi untuk segmen public service obligation (PSO) sebanyak 7,55 juta kl dari total target produksi B40 tahun ini sebanyak 15,6 juta kl. Namun, dalam perkembangannya, Kementerian ESDM mengajukan tambahan alokasi subsidi B40 mencapai Rp16 triliun pada tahun ini.
(azr/wdh)































