Alihkan Impor LPG, RI Buat Kontrak Jangka Panjang ke AS-Australia
Azura Yumna Ramadani Purnama
13 March 2026 19:35

Bloomberg Technoz, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia sudah mulai mengalihkan impor gas minyak cair atau liquified petroleum gas (LPG) dari Timur Tengah. Pada saat ini, sekitar 20% impor LPG Indonesia memang berasal dari beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Dia menyatakan, stok LPG nasional per hari ini mencapai 15,65 hari dan pemerintah bakal terus memperkuat stok. Salah satunya dengan mendiversifikasi sumber impor dari Timur Tengah ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia. Bahkan, kata dia bakal terdapat dua kargo impor LPG asal Australia yang tiba di RI pada akhir pekan ini.
“Dengan kondisi sekarang yang di Middle East kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia. Itu untuk LPG,” kata Bahlil dalam sidang kabinet paripurna, Jumat (13/3/2026).
Kemudian, pada akhir bulan ini akan terdapat dua kargo LPG yang tiba di RI. Setelah sebelumnya pada 8 Maret terdapat satu kargo impor LPG yang diklaim Bahlil tiba di Indonesia. "Jadi Januari Februari Maret April itu insyaallah clear,” ungkap dia.
Dalam kesempatan itu, Bahlil melaporkan bahwa ketahanan stok LPG nasional per hari ini, Jumat (13/3/2026) mencapai 15,66 hari di atas batas minimum 11,4 hari. Pertalite (RON 90) memiliki ketahanan stok nasional atau coverage days (CD) sebesar 24,39 hari, berada di atas batas minimum 18,2 hari.
Untuk Pertamax (RON 92), Bahlil mengungkapkan ketahanan stok nasional tercatat 28,75 hari atau lebih tinggi dari batas minimum 19,9 hari. Sementara Pertamax Turbo (RON 98) dilaporkan memiliki ketahanan stok 31,32 hari, melampaui batas minimum 22,3 hari.
Lebih lanjut, pada BBM jenis Solar (CN 48) ketahanan stok nasional tercatat 16,41 hari, sedikit di atas batas minimum 16,3 hari. Sedangkan Pertamina Dex (CN 53) Bahlil menyatakan memiliki ketahanan stok mencapai 46,05 hari, jauh di atas batas minimum 24,9 hari.
Untuk bahan bakar penerbangan avtur, ketahanan stok nasional tercatat 38,15 hari atau melampaui batas minimum 26 hari.
Adapun, berdasarkan data Dewan Energi Nasional (DEN) dan BPH Migas, komposisi impor minyak mentah Indonesia pada 2025 berasal dari berbagai negara mitra sehingga sumbernya terdiversifikasi.
Antara lain Nigeria sebesar 34,07 juta barel atau sekitar 25%, Angola sebesar 28,5 juta barel atau 21%, Arab Saudi sebesar 25,36 juta barel atau sekitar 19%, Brasil 9%, Australia 8%, serta sejumlah negara lainnya seperti Gabon, Amerika Serikat (AS), dan Malaysia.
Untuk impor BBM, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2025 Indonesia tercatat mengimpor BBM paling banyak dari Singapura dan Malaysia. Terdapat negara lainnya yang turut menjadi sumber impor BBM RI, antara lain China, Korea Selatan, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), India, Mesir, Jepang, dan Taiwan.
Adapun, PT Pertamina Patra Niaga memprediksi konsumsi BBM jenis bensin melonjak hingga 12% pada momen Idulfitri 2026. Sedangkan permintaan BBM jenis solar atau diesel atau gasoil, diprediksi melandai hingga 14,5%. Sementara itu, penyaluran gas minyak cair diprediksi mengalami kenaikan sekitar 4% dari hari normal.
Lalu, permintaan avtur diprediksi naik hingga 2,8%, sedangkan minyak tanah atau kerosin, diprediksi mengalami kenaikan konsumsi hingga 4,2%.


























