Di sisi berseberangan, won Korsel berhasil menguat 0,28%, yuan offshore 0,12% dan yen Jepang juga menguat 0,1%. Menyusul dolar Singapura yang terapresiasi 0,05%, rupee India 0,02%, dan dolar Hong Kong menguat 0,02%.
Pelemahan rupiah turut dipengaruhi dan mempengaruhi pula arus jual yang makin besar di pasar obligasi Surat Utang Negara (SUN).
Yield SUN mayoritas naik terutama tenor 6 tahun yang melejit 5,4 basis poin (bps) di 5,745%, disusul tenor 4 tahun yang juga menguat 4,9 bps di 5,335%.
Sementara tenor 1 tahun naik 2,4 bps, bersama tenor 5 tahun yang naik 3,4 bps, dengan tenor 10 tahun naik 3,3 bps, seperti ditunjukkan oleh data OTC Bloomberg, petang ini.
Tekanan yang dihadapi oleh rupiah beserta mata uang Asia hari ini berlangsung imbas lonjakan DXY, indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia, hingga menyentuh 97,87 hari ini.
Penguatan DXY berlanjut sampai petang ini di mana posisinya terus menguat 0,62%.
Dolar yang kembali perkasa dipanaskan oleh risiko yang tetap ada, mulai dari inflasi yang membandel hingga moderasi pertumbuhan pasar tenaga kerja AS.
“Isu stagflasi terus muncul setiap beberapa bulan,” kata Matt Maley dari Miller Tabak. “Data harga kunci yang keluar Jumat nanti akan menentukan apakah kegelisahan stagflasi membesar atau justru reda. Itu akan penting untuk melihat arah pasar saat kita memasuki OKtober,” tambahnya.
Sikap ini cenderung membuat pasar beralih kembali terhadap the greenback, menjauhi aset–aset yang lebih berisiko.
Penguatan dolar AS mengonfirmasi investor yang sedang memasang mode bermain aman. Aset-aset berisiko pun ditinggalkan, termasuk saham.
Sentimen bearish di pasar berlangsung bersamaan dengan gelagat pemodal asing yang terus mengurangi posisi kepemilikan surat utang mereka di pasar Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, manuver jual investor asing di SBN berlangsung tambah masif sepanjang bulan ini.
Per data 18 September, posisi asing di SBN terus menurun di level Rp918,47 triliun. Turun Rp35,38 triliun selama bulan ini saja (month–to–date).
Kecemasan pasar yang meningkat, terutama dari para pemodal asing, menyoal risiko fiskal ke depan dan nasib independensi Bank Indonesia, jadi sebabnya.
"Kesehatan fiskal sudah menjadi salah satu kecemasan investor. Ketidakpastian baru akan menambah kehati–hatian di pasar," komentar Jeffrey Zhang, Ahli Strategi Pasar Berkembang di Credit Agricole di CIB Hong Kong, mengutip Bloomberg News.
Melansir data Bloomberg, penjualan obligasi Indonesia oleh investor asing bulan ini diestimasikan menjadi yang terbesar dalam tiga tahun. Investor asing telah menjual bersih obligasi rupiah senilai US$1,9 miliar sepanjang bulan ini hingga 18 September, menurut data Kementerian Keuangan yang dihimpun Bloomberg.
Angka tersebut menempatkan bulan ini pada jalur menuju arus keluar bulanan terbesar sejak September 2022.
Sementara itu, rupiah melemah 1,5% terhadap dolar sepanjang bulan ini, menjadi mata uang dengan kinerja paling lesu di Asia.
“Investor masih ingin melihat perkembangan terbaru dari pembangunan ekonomi oleh Menteri Keuangan yang baru,” tutur Myrdal Gunarto, Ahli Strategis di Malayan Banking Bhd. (Maybank), Jakarta.
“Ketika mereka berada dalam posisi wait and see, mereka cenderung memilih menjual dan ambil untung terlebih dahulu.”
Sentimen pasar terhadap USD/IDR masih rapuh, tulis Lloyd Chan, Ahli Strategi Valas di MUFG Bank Ltd. mengutip Bloomberg, dalam sebuah catatan.
“Tanpa adanya kejelasan kebijakan yang signifikan, utamanya terkait prospek fiskal 2026, pasangan ini (IDR/USD) kemungkinan akan terus berkinerja lemah pada kuartal IV–2025, dengan konsolidasi di atas proyeksi permulaan kami di level Rp16.400 pada tutup tahun ini.”
Dinamika dolar terhadap rupiah bertepatan dengan penguatan kembali indeks dolar AS (DXY), tulis analis Maybank yang dipimpin oleh Supaat Saktiandi dalam sebuah catatan.
“Pada saat yang sama, pasar juga terus menilai dampak dari berbagai kebijakan baru yang diumumkan pemerintah setelah Purbaya Yudhi Sadewa menjabat sebagai Menteri Keuangan,” papar Saktiandi.
(fad/aji)




























