Logo Bloomberg Technoz

Rupiah telah menembus level support terdekat di Rp 16.640/US$.  Support selanjutnya rupiah berada di level Rp 16.700/US$ yang jauh dari sMoving Average (MA) 100.

Analisis Teknikal Nilai Rupiah Selasa 23 September 2025 (Riset Bloomberg Technoz)

Mayoritas mata uang Asia memang tertekan terhadap dolar AS, jelang penantian pasar akan pidato Powell hari ini, juga ketika pasar wait and see menunggu rilis data pertumbuhan ekonomi AS serta inflasi PCE di pengujung pekan.

Hari ini, DPR-RI mengesahkan Rancangan Undang-undang Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara atau RUU APBN 2026 menjadi UU APBN 2026, dalam sidang Rapat Paripurna yang digelar hari ini, Selasa (23/9/2025).

Ketua DPR Puan Maharani mengatakan, kesepakatan tersebut didasari laporan Badan Anggaran (Banggar) DPR yang juga memastikan telah disetujui oleh seluruh fraksi, yakni PDIP, Golkar, Gerindra, Nasdem, PKB, Demokrat, PAN dan PKS untuk disahkan menjadi UU.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi putusan DPR itu. Purbaya berharap UU ini akan mendongrak tercapainya target pertumbuhan ekonomi nasional.

"APBN ini APBN pertama yang disusun oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto," ujar Purbaya.

Pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun depan di angka 5,4%, lalu asumsi inflasi di kisaran 2,5%, disusul nilai tukar rupiah Rp16.500/US$ dan suku bunga SBN 10 tahun 6,9%.

Postur APBN 2026:

1. Pendapatan Negara: Rp3.153,6 triliun, terdiri dari:

- Penerimaan Perpajakan: Rp2.693,7 triliun

- PNBP: Rp459,20 triliun

- Hibah: Rp0,66 triliun

2. Belanja Negara: Rp3.842,7 triliun, yang terdiri dari:

- Belanja Pemerintah Pusat: Rp3.149,73 triliun

- Belanja K/L: Rp1.510,55 triliun

- Belanja Non-K/L: Rp1.639,19 triliun

3. Transfer ke Daerah (TKD): Rp692,99 triliun

4. Keseimbangan Primer: (Rp89,71 triliun)

5. Defisit: Rp689,15 triliun (2,68% dari PDB)

6. Pembiayaan: Rp689,15 triliun

(rui)

No more pages