Produk yang ditawarkan mencakup bahan bakar standar Euro 4 yaitu RON 92, RON 95, dan diesel berkualitas tinggi. Varian ini diposisikan sebagai alternatif Pertamax, Pertamax Turbo, dan Pertamina Dex.
Manajemen AKRA, dalam paparan publik pekan lalu mengatakan pasokan BBM ritel masih terbatas di Indonesia. Terdapat sekitar 8.000 SPBU untuk melayani 280 juta penduduk, dengan partisipasi swasta baru mencapai 3%. Hal ini membuat pasar ritel BBM masih didominasi Pertamina.
Di sisi lain, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebelumnya mengungkapkan tambahan kuota impor BBM periode 2025 untuk perusahaan swasta, termasuk Shell dan BP–AKR, mencapai 7.000 hingga 44.000 kiloliter (kl).
Pendiri AKRA
PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) merupakan perusahaan publik milik keluarga pengusaha Soegiarto Adikoesoemo. Putranya, Haryanto Adikoesoemo, kini menjabat sebagai Presiden Direktur. Ia dikenal luas sebagai pengusaha energi dan logistik, sekaligus kolektor seni serta pendiri Museum Macan di Jakarta.
Soegiarto Adikoesoemo memulai kiprahnya di dunia usaha melalui perdagangan bahan kimia dan jasa logistik, setelah melihat adanya peluang di tengah geliat pertumbuhan industri nasional. Usahanya bertahan sejak masa pemerintahan Presiden Soekarno, lalu berkembang pesat ketika memasuki era Presiden Soeharto.
Pada 1977, Soegiarto mendirikan PT Aneka Kimia Raya, yang kemudian bertransformasi menjadi PT AKR Corporindo Tbk. Di tahap awal, perusahaan lebih banyak bergerak di bidang distribusi bahan kimia, sebelum memperluas lini usaha ke sektor energi dan logistik.
Memasuki tahun 1990-an, AKR Corporindo mulai menjalankan strategi ekspansi, termasuk melebarkan sayap ke pasar Tiongkok. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat pertumbuhan bisnisnya di level regional.
(dhf)



























