"Selama kita tidak punya program kerja yang bisa menyerap tenaga kerja yang nganggur, industri itu tidak boleh dibunuh. Ini kan hanya menimbulkan orang yang susah [semakin banyak]," tutur dia.
Datangi Industri
Di sisi lain, untuk lebih memahami dinamika industri rokok, Purbaya juga berencana mendatangi sejumlah pabrik dan perusahaan mereka, yang mayoritas beroperasi di daerah Jawa Timur.
"Saya akan ke Jawa Timur akan ngomong sama industri nya akan saya lihat seperti apa. Turun apa nggak? Kalau misalnya nggak turun, tapi [tetap] pasar mereka saya lindungi. Dalam artian yang yang palsu itu saya larang."
Salah satu perusahaan besar rokok, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) sebelumnya diisukan telah melakukan PHK ratusan karyawannya. Tetapi informasi tersebut dibantah oleh manajemen.
Dalam keterbukaan informasinya, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam Heru Budiman menegaskan, yang terjadi bukan PHK massal, melainkan proses pelepasan terhadap 309 karyawan secara normatif.
“Bahwa sebenarnya yang terjadi bukan PHK massal, melainkan proses pelepasan 309 karyawan secara normatif, melalui mekanisme pensiun normal dan pensiun dini secara sukarela, serta berakhirnya kontrak kerja sesuai batas waktu kontrak kerja,” katanya, belum lama ini.
Terhadap 309 orang tersebut, Gudang Garam tetap akan memberikan hak karyawan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Termasuk apabila perseroan merasa perlu melakukan adaptasi skala operasional.
Heru memastikan saat ini operasional PT Gudang Garam berjalan normal seperti biasa dari proses produksi hingga distribusi. Sehingga pelepasan terhadap 309 karyawan secara normatif tersebut tidak memberikan dampak terhadap kelangsungan usaha perusahaan.
Hanya saja, perusahaan mengakui tengah berada dalam kinerja keuangan yang lesu. Itu tergambar dengan adanya penurunan penjualan dan laba perusahaan terutama disebabkan oleh lemahnya daya beli konsumen serta kenaikan tarif cukai yang tidak diimbangi kenaikan harga jual.
Berdasarkan laporan keuangan semester I/2025, pendapatan Gudang Garam tercatat turun 13,3% menjadi Rp44,3 triliun dibandingkan Rp50 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, volume penjualan juga turun 14,9% menjadi 23,7 miliar batang dari sebelumnya 27,8 miliar batang. Penurunan ini menyeret laba komprehensif anjlok tajam dari Rp926 miliar menjadi hanya Rp120 miliar, atau turun dari 1,9% menjadi 0,3% terhadap pendapatan.
(lav)































