Penurunan pengeluaran ini menyusul peningkatan stimulus fiskal pada awal tahun saat ekonomi terbesar kedua di dunia ini menghadapi tekanan tarif Donald Trump.
Pada Agustus, penerbitan obligasi bersih pemerintah China melambat untuk kali pertama tahun ini, membatasi daya beli Beijing.
Menurunnya dukungan fiskal berkontribusi pada dua bulan terlemah bagi perekonomian tahun ini, yaitu Juli dan Agustus. Investasi—pendorong utama yang digunakan pemerintah untuk menstimulus pertumbuhan—melemah secara tajam.
Meski para analis semakin mendesak Beijing untuk meningkatkan dukungan terhadap perekonomian, risiko utang yang terus membengkak berarti otoritas mungkin akan memilih untuk tidak melakukan ekspansi fiskal agresif seperti yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
Pengeluaran pemerintah pada Januari-Agustus secara keseluruhan meningkat 8,9% dibandingkan tahun sebelumnya dengan total 24,2 triliun yuan.
Data terbaru Kemenkeu memberikan bukti tambahan bahwa pemerintah kesulitan meningkatkan pendapatan. Perlambatan pertumbuhan China menghambat penerimaan pajak, sementara penjualan tanah tetap lesu. Krisis sektor properti yang berkepanjangan tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Dalam delapan bulan pertama tahun ini, penerimaan pajak naik tipis 0,02% dari tahun sebelumnya menjadi 12,1 triliun yuan, sedangkan pendapatan pemerintah daerah dari penjualan tanah kontraksi 4,7% menjadi 1,9 triliun yuan. Secara keseluruhan, keduanya menyumbang 80% dari pendapatan pemerintah secara keseluruhan selama periode tersebut.
“Mengingat permintaan domestik lesu serta pasar tenaga kerja dan properti terus melemah, kami yakin pelonggaran bertahap dan terarah masih diperlukan pada kuartal-kuartal mendatang," kata ekonom Goldman.
(bbn)



























