Saham–saham properti berhasil mengalami penguatan 0,92%.
Sejumlah saham perindustrian yang menjadi pendorong penguatan IHSG ialah saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) yang melesat setinggi 24,4%, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) dengan kenaikan 10,1%, hingga terbesarnya saham PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) menguat 8,62%.
Senada, saham teknologi juga melesat hingga mendukung penguatan IHSG, saham PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) melejit 19,99%, saham PT Aviana Sinar Abadi Tbk (IRSX) melesat dengan kenaikan 10%, dan saham PT Cashlez Worldwide IndonesiaTbk (CASH) menguat 9,91%.
Saham–saham unggulan LQ45 yang juga bergerak pada teritori positif antara lain, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 6,91%, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) menguat 5,56%, saham PT XLSmart Tbk (EXCL) terbang 4,15%, dan juga saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) melonjak 3,35%.
Menyusul rekan–rekannya, saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) melesat 3,25%, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) terapresiasi 2,37%. Senada, saham PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) menguat 2,29%, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) meninggi 2,18%.
Adapun bursa Asia hari ini justru melaju bervariasi. Indeks Hang Seng Hong Kong melesat 1,78%, Shenzhen Comp China melejit 0,83%, FTSE KLCI Malaysia menguat 0,72%, CSI 300 China meninggi 0,61%, Shanghai hijau 0,37%, sedang, KOSPI Korea ambles 1,05%, TOPIX Jepang drop 0,71%, Strait Times Singapore melemah 0,32%, NIKKEI 225 Jepang turun 0,25%, dan SETI Thailand terdepresiasi 0,07%.
Penguatan IHSG sejalan dengan solidnya mata uang Indonesia rupiah hari ini, Rabu (17/9/2025), di pasar spot ditutup di level Rp16.430/US$ pada penutupan perdagangan.
Keberhasilan rupiah yang menguat pada penutupan perdagangan efek langsung dari momentum positif di tengah sentimen pasar yang menguntungkan aset–aset emerging market.
Utamanya, dari dalam negeri, Bank Indonesia mengumumkan hasil RDG periode September 2025. Gubernur Perry Warjiyo dan kolega memutuskan untuk memangkas BI Rate 25 basis poin menjadi 4,75%,
Gubernur Perry Warjiyo menyebutkan BI juga menurunkan level suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,75%, dan suku bunga Lending Facility turun sebesar 25 bps menjadi 5,5%
“Keputusan ini sejalan dengan upaya bersama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menjaga tetap rendahnya prakiraan inflasi 2025 dan 2026 dalam sasaran 2,5±1% dan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Konferensi Pers yang dilakukan secara daring siang ini.
Keputusan ini di luar ekspektasi pasar yang terbilang satu suara meramal keputusan Rapat Dewan Gubernur hari ini. Konsensus 38 Ekonom/Analis yang disurvei oleh Bloomberg menghasilkan median 5% untuk BI Rate.
Hasilnya, BI kembali mengejutkan pasar dengan tak terduga memangkas suku bunga acuan untuk keenam kali sejak September 2024 lalu.
Sentimen dari global juga terbilang menguntungkan rupiah, Tuah indeks dolar AS atau DXY yang terjerembab di zona pelemahan, jadi pendorong tersendiri, DXY terpeleset pun di posisi 96,781.
Dollar Index (yang menggambarkan posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) pun melemah 0,55%, berdasarkan data real–time Bloomberg dari perdagangan hari sebelumnya.
Luapan sentimen Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dinilai jadi fokus utama.
Pada Kamis dini hari nanti, Bank Sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan mengumumkan hasil rapat Komite Pengambil Kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC). Satu yang dinanti tentu adalah bunga acuan.
Mengutip CME FedWatch, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin ke 4 – 4,24% adalah 96,1%. Sementara kemungkinan pemangkasan 50 bps menjadi 3,75 – 4% adalah 3,9%.
Yang juga jadi perhatian pasar, Tidak ada probabilitas suku bunga acuan bakal ditahan di posisi saat ini 4,25 – 4,5%.
Penurunan suku bunga akan membuat investasi di aset–aset berbasis dolar AS (terutama di instrumen berpendapatan tetap) menjadi kurang menarik. Alhasil, dolar AS mengalami tekanan jual dan nilai tukarnya jatuh, investor pun bergeser.
(fad/aji)



























