Pelemahan rupiah hari ini menyeret nilai rupiah mencatat pelemahan sepanjang tahun 2025, year–to–date sebesar 2,06%, masih lebih kecil dibanding pelemahan yang terjadi pada rupee India yang mencapai 2,78% ytd.
Pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG berhasil menguat 0,26% biarpun siang tadi sempat melemah. Sedang di pasar surat utang negara, harga obligasi pemerintah cenderung menguat diiringi permintaan yang cukup positif, ditandai dengan penurunan tingkat imbal hasil.
Yield obligasi pemerintah tenor 2 tahun turun 1,6 basis poin (bps) pada level 5,198% sedang tenor 5 tahun turun 3.6 bps yang saat ini ada di 5,583%. Sedang pada tenor 15 tahun terpangkas 1,4 bps saat ini di 6,773%.
IHSG Hijau Lagi
IHSG pada penutupan perdagangan terlihat lebih semringah. Pada closing bell IHSG ditutup menguat 0,26% di level 7.957.
Sejumlah saham tercatat menjadi pendorong penguatan pada hari ini, yaitu saham DSSA, MLPT, TLKM, FILM, DCII, HMSP, BNLI, ANTM, BRMS, dan juga saham TPIA.
Sementara beberapa saham Big Caps menjadi laggard atau pemberat IHSG diantaranya saham BBCA, EMTK, BMRI, BYAN, AMMN, BBRI, CUAN, BBNI, BRPT, dan saham MSIN.
IHSG yang dibuka menguat pagi tadi sempat berbalik arah jadi lemah tersengat manuver profit taking oleh investor pasar saham setelah kenaikan IHSG yang cukup signifikan selama 4 hari berturut–turut. Namun, jelang penutupan perdagangan, IHSG berbalik menguat lagi.
Menanti Pengumuman BI Rate
Hari ini, Bank Indonesia (BI) mulai menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode September. Besok hari, hasilnya akan diumumkan termasuk bunga acuan, BI Rate.
Konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, sampai dengan saat ini melibatkan 38 analis/ekonom Selasa (16/9/2025), menghasilkan median proyeksi di 5%. Artinya, BI Rate ditahan, tidak ke mana-mana, sama seperti sebelumnya.
Tahun ini, MH Thamrin menerapkan kebijakan moneter yang cenderung longgar. Dalam setahun, BI Rate sudah dipangkas turun 125 basis poin (bps).
Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Intelligence, menjadi salah satu pihak yang memperkirakan BI Rate bertahan di 5% pada bulan ini. Stabilitas nilai tukar rupiah akan menjadi pertimbangan utama.
“BI kemungkinan akan menahan suku bunga acuan di 5%. Ini dilakukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah setelah pergantian posisi Menteri Keuangan,” sebut Henderson.
Selain itu, lanjut Henderson, BI sudah menurunkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang 2025, masing-masing 25 bps. Mungkin BI akan memantau terlebih dulu bagaimana dampak dari penurunan yang sudah cukup dalam tersebut.
“Pertumbuhan ekonomi cukup solid hingga pertengahan tahun, sehingga belum ada kegentingan untuk kembali menurunkan suku bunga acuan,” papar Henderson.
Kendatipun bulan ini BI Rate mungkin ditahan, tetapi Henderson tetap menegaskan posisi (stance) kebijakan moneter adalah akomodatif. Ke depan, ruang penurunan BI Rate lebih lanjut masih terbuka.
“Kami memperkirakan BI akan melanjutkan pelonggaran moneter tahun ini, beriringan dengan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (Bank Sentral Amerika Serikat/AS),” jelas Henderson.
(fad)






























