Logo Bloomberg Technoz

Tidak berhenti di situ, rantai gula yang lebih panjang akan membentuk oligosakarida dan polisakarida, seperti pati yang biasa ditemukan dalam beras atau umbi-umbian. Polisakarida dianggap lebih kompleks karena penyerapannya membutuhkan waktu lebih lama.

“Tubuh sebenarnya juga mampu menghasilkan glukosa dari cadangan lemak bila dibutuhkan,” tambah Dr. Puspo. Fakta ini menunjukkan betapa fleksibelnya metabolisme tubuh dalam mengelola energi, tetapi konsumsi gula tambahan tetap harus dibatasi.

Dampak Konsumsi Gula Berlebihan

Tips Puasa Bagi Penderita Diabetes (Bloomberg Technoz/Asfahan)

Mengonsumsi gula dalam jumlah berlebih dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Risiko paling nyata adalah obesitas akibat kelebihan kalori yang disimpan sebagai lemak tubuh. Selain itu, gula berlebih juga meningkatkan peluang terkena diabetes mellitus, penyakit kronis yang jumlah penderitanya terus meningkat di Indonesia.

Bahaya tidak berhenti di situ. Konsumsi gula yang terlalu tinggi juga dikaitkan dengan penyakit jantung, gangguan metabolisme, dan masalah gigi. Dr. Puspo menegaskan bahwa meski gula merupakan sumber energi, penggunaannya tetap harus proporsional sesuai kebutuhan tubuh.

Konsumsi Gula Ideal Menurut Pakar

Dr. Puspo menyarankan agar masyarakat bijak dalam menggunakan gula pasir atau sukrosa. Menurutnya, dua hingga tiga sendok teh gula per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Angka ini sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menganjurkan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10% total energi harian. Jika melebihi batas tersebut, risiko kesehatan akan meningkat secara signifikan.

“Setiap orang memiliki kebutuhan energi berbeda, tetapi dua sampai tiga sendok teh per hari adalah batas aman untuk kebanyakan orang,” tegasnya.

Tips Bijak Konsumsi Gula

Untuk mencegah dampak buruk gula berlebih, Dr. Puspo memberikan sejumlah tips praktis yang bisa diterapkan masyarakat:

  1. Kurangi gula pasir. Batasi penggunaan sukrosa dalam makanan dan minuman sehari-hari.

  2. Pilih gula alami. Konsumsilah gula kompleks dari buah, sayur, dan biji-bijian utuh (whole grains).

  3. Tingkatkan aktivitas fisik. Bakar kalori berlebih agar tidak menumpuk menjadi lemak.

  4. Perbanyak buah. Selain rasa manis alami, buah juga mengandung vitamin, mineral, dan serat pangan yang baik untuk kesehatan.

Menurutnya, dengan mengurangi ketergantungan pada gula tambahan dan lebih banyak mengonsumsi sumber karbohidrat kompleks, masyarakat dapat menjaga keseimbangan energi sekaligus menurunkan risiko penyakit.

Konsumsi Gula dalam Pola Hidup Modern

Di era modern, tantangan terbesar adalah gaya hidup masyarakat yang kian dekat dengan makanan dan minuman manis siap saji. Minuman kemasan, kue, hingga jajanan cepat saji sering kali mengandung gula tersembunyi dalam jumlah besar.

Konsumsi tanpa sadar inilah yang membuat banyak orang melampaui batas asupan harian. Padahal, rasa manis tersebut sering kali hanya memberikan energi instan tanpa nutrisi tambahan yang berarti.

“Jika tidak dibarengi aktivitas fisik, gula yang berlebih akan disimpan tubuh sebagai lemak. Inilah awal mula obesitas dan berbagai penyakit tidak menular,” ujar Dr. Puspo.

Peran Edukasi dalam Mengurangi Konsumsi Gula

Upaya menekan angka konsumsi gula berlebih tidak cukup hanya dengan anjuran, tetapi memerlukan edukasi yang konsisten. Masyarakat perlu diedukasi mengenai jenis-jenis gula, dampaknya bagi kesehatan, dan cara menggantinya dengan pilihan lebih sehat.

Program edukasi dapat dilakukan melalui kampanye kesehatan di sekolah, lingkungan kerja, hingga media massa. Dengan pemahaman yang benar, masyarakat akan lebih sadar dan termotivasi untuk mengurangi konsumsi gula tambahan.

“Kesadaran masyarakat adalah kunci utama. Tanpa pemahaman, sulit untuk mengubah kebiasaan sehari-hari,” tutur Dr. Puspo.

Alternatif Sehat Pengganti Gula

Selain membatasi gula pasir, masyarakat juga bisa memilih alternatif sehat untuk memberikan rasa manis. Beberapa opsi antara lain madu, gula kelapa, atau pemanis alami rendah kalori.

Namun, pakar tetap menegaskan bahwa sekalipun pemanis alami lebih sehat, penggunaannya tetap harus moderat. Prinsipnya adalah mengurangi asupan manis secara keseluruhan, bukan sekadar mengganti jenis gula.

Di sisi lain, buah-buahan segar merupakan pengganti ideal karena selain manis, juga membawa manfaat gizi lain yang mendukung metabolisme tubuh.

Aktivitas Fisik sebagai Kunci Penyeimbang

Regina Djuanda saat bermain olahraga padel bersama teman-temannya di The Good Padel Club, Cilandak, Kamis (03/07). (Bloomberg Technoz/Farid Nurhakim)

Konsumsi gula harus selalu diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai. Olahraga rutin, seperti berjalan kaki, bersepeda, atau berenang, dapat membantu membakar kalori berlebih.

Dr. Puspo menekankan bahwa gaya hidup aktif bukan hanya mencegah penumpukan lemak, tetapi juga meningkatkan metabolisme tubuh secara keseluruhan. Dengan begitu, risiko diabetes dan obesitas dapat ditekan secara signifikan.

“Gula yang masuk harus seimbang dengan energi yang keluar. Jika tidak, tubuh akan menyimpannya, dan itu yang berbahaya,” ungkapnya.

Bijak Konsumsi Gula untuk Hidup Sehat

Konsumsi gula berlebihan terbukti membawa dampak buruk bagi kesehatan, mulai dari obesitas hingga diabetes. Melalui edukasi dan penerapan pola hidup sehat, masyarakat dapat mengurangi risiko ini.

Pakar dari IPB University mengingatkan bahwa gula tetap diperlukan tubuh sebagai sumber energi, tetapi penggunaannya harus sesuai kebutuhan. Dengan membatasi gula pasir, memilih karbohidrat kompleks, dan rutin beraktivitas fisik, kesehatan dapat lebih terjaga.

“Kita perlu mengurangi konsumsi gula agar bisa meminimalkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular,” pungkas Dr. Puspo. Pesan ini menjadi peringatan bagi masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam menentukan pilihan makanan sehari-hari.

(seo)

No more pages