“Rata-rata produksi gula nasional belum mencukupi sehingga masih diperlukan impor raw sugar untuk memenuhi kebutuhan,” ujarnya.
Widyastuti menyebut tantangan menuju swasembada gula cukup besar. Isu utama yang dihadapi mencakup keterbatasan lahan tebu, perlunya perluasan tanaman, hingga pembangunan pabrik pengolahan. Jika sederet hal tersebut dapat diatasi, produksi gula dalam negeri berpotensi meningkat secara signifikan.
“Penyediaan lahan tebu dan pembangunan pabrik masih menjadi isu utama, di samping masalah harga gula dan penerapan kebijakan harga. Hal-hal ini yang selama ini menghambat peningkatan produksi,” jelasnya.
Berdasarkan data Kemenko Pangan, produksi gula pada 2021 sebanyak 2.130.719 ton; 2022 mencapai 2.350.833 ton; 2023 sebanyak 2.405.908 ton; dan 2024 mencapai 2.465.739 ton.
Adapun pertumbuhan produksi gula sejak 2020 hingga 2024 mencapai 3,91% per tahun.
Mengutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gula juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2020 mencapai 5.539.678 ton; 2021 5.482.616 ton; 2022 sebanyak 6.007.602 ton; 2023 mencapai 5.069.455 ton, dan 2024 sebanyak 5.313.529 ton.
(ain)




























