“Kita tahu resources kita ini makin menurun dan berebut, mana yang didahulukan apakah pupuk, listrik, industri atau apa,” kata Didi.
Permintaan perusahaan setrum pelat merah itu belakangan menjadi krusial menyusul kekurangan pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) anak usahanya, PT PLN Energi Primer Indonesia sampai akhir tahun ini.
PLN Energi Primer Indonesia, anak usaha PLN yang mengurusi pasokan energi primer bagi pembangkit, melaporkan kekurangan sekitar 16 kargo LNG sepanjang periode Agustus 2025 sampai dengan Desember 2025.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan perseroan saat ini masih menunggu kepastian pasokan tambahan untuk menutup kekurangan tersebut.
“Tahun ini kebutuhan 95 kargo masih kurang 16 kargo LNG untuk September sampai Desember,” kata Rakhmad saat dimintai konfirmasi, Rabu (13/8/2025).
Di sisi lain, Rakhmad memproyeksikan, kebutuhan kargo LNG untuk pembangkit PLN tahun depan bakal bergerak ke angka sekitar 110 kargo.
“Tahun depan kebutuhan sekitar 110 kargo,” kata dia.
Upaya untuk mengamankan pasokan kargo LNG juga tengah dilakukan PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN tahun ini.
Seiring dengan susutnya pasokan gas pipa dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di Sumatra Selatan, PGN belakangan mulai memperbanyak pasokan LNG sebagai ganti gas untuk industri.
Adapun, PGN memproyeksikan kebutuhan LNG untuk pelanggan mencapai 12 kargo sepanjang 2025.
Sampai dengan periode yang berakhir Juli 2025, kebutuhan LNG perusahaan gas negara itu telah terpenuhi sebanyak 6 kargo dari kilang domestik, dengan pemanfaatan fasilitas FSRU Lampung dan LNG Hub di Arun.
“Saat ini, sebagian kebutuhan 2025 sudah memiliki kepastian pasokan dari penjual, sementara sisanya sedang difinalisasi,” kata Sekretaris Perusaan PGN Fajriyah Usman saat dikonfirmasi, Rabu (13/8/2025).
Undur Ekspor
Menyusul permintaan yang makin tinggi dari dua perusahaan negara itu, SKK Migas belakangan mengambil jalan untuk menjadwal ulang pengiriman kargo LNG ekspor.
Harapannya, pengalihan kargo ekspor itu bisa menambal proyeksi peningkatan LNG dari pasar domestik saat ini yang tumbuh pesat.
SKK Migas memproyeksikan ekspor LNG tahun ini hanya mencapai 150 kargo, sementara alokasi domestik berjumlah 86 kargo. Tahun lalu, ekspor LNG yang terkontrak ditaksir mencapai sekitar 167—170 kargo.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas Kurnia Chairi menuturkan lembagannya tengah berupaya mengalihakn sebagian kargo ekspor untuk pasar domestik.
Namun, dia enggan memerinci besaran ekspor LNG yang akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Nanti kita susun lagi [...] kita lihat dari proyeksi tadi 150 ekspor kargo masih memungkinkan dialihkan ke domestik atau lainnya,” kata Kurnia saat konferensi pers Kinerja Hulu Migas Tengah Tahun 2025 di Jakarta, Senin (21/7/2025).
Sampai akhir 2025, SKK Migas memproyeksikan produksi LNG dari fasilitas pengolahan Bontang, Kalimantan Timur dan Tangguh, Papua mencapai 237,8 kargo.
Secara terperinci, fasilitas pengolahan LNG Bontang berpotensi memproduksi 53,8 kargo hingga akhir tahun ini. Sementara itu, fasilitas pengolahan LNG Tangguh, diprediksi memproduksi 184 kargo hingga pengujung tahun.
Hanya saja, outlook produksi LNG domestik diperkirakan akan susut seiring dengan rencana perawatan atau turn around Train-1 Kilang Tangguh tahun depan.
BP memproyeksikan produksi dari Kilang Tangguh bakal mengalami penurunan sekitar 10,1 standar kargo LNG pada 2026.
(naw)






























