Raksasa teknologi seperti Meta Platforms Inc. dan Amazon.com Inc. telah meneken perjanjian pembelian listrik jangka panjang dengan operator nuklir.
Lembaga pembiayaan multilateral pun mulai melonggarkan kebijakan mereka—termasuk Bank Dunia yang mencabut larangan pendanaan terhadap energi nuklir.
Bagaimana negara-negara kembali berinvestasi di sektor nuklir?
Beberapa negara berkomitmen membangun pembangkit nuklir skala besar, sementara yang lain fokus memperpanjang usia reaktor yang ada.
Di negara-negara maju, banyak reaktor mendekati akhir masa desainnya yang rata-rata 40 tahun. Untuk memperpanjang masa operasinya, dibutuhkan investasi signifikan.
Banyak negara juga mulai mengembangkan teknologi small modular reactors (SMR), yakni reaktor modular kecil dengan komponen standar yang bisa diproduksi massal di pabrik dan dirakit di lokasi.
Tujuannya, menekan biaya konstruksi. Namun, komersialisasi SMR masih tertunda dan kemungkinan baru bisa diimplementasikan dalam beberapa tahun mendatang.
Dukungan terhadap energi nuklir sebagai solusi perubahan iklim menguat pada 2022, saat parlemen Uni Eropa menyetujui label hijau bagi proyek nuklir.
Namun untuk mewujudkan ambisi tersebut, blok ini membutuhkan dana sekitar €241 miliar (US$283 miliar)—yang masih menjadi tantangan besar.
Di AS, Presiden Donald Trump memberikan insentif fiskal untuk industri ini dan berupaya menyederhanakan regulasi. Namun masih banyak hal yang perlu berjalan lancar agar ekspansi nuklir bisa berhasil—bahkan dengan dukungan kebijakan sekalipun.
Salah satu tantangan datang dari aturan dalam undang-undang Trump yang membatasi proyek nuklir menerima kredit pajak apabila melibatkan “entitas asing yang menjadi perhatian”—menimbulkan ketidakpastian bagi investor.
Siapa saja yang mengambil langkah nyata?
- Inggris dan Prancis menjadi pemimpin di antara negara Barat. Inggris—di mana nuklir menyumbang 15% dari listrik—menargetkan peningkatan kontribusi menjadi 25% pada 2050, termasuk dengan membangun 8 reaktor baru. Prancis—yang 70% listriknya berasal dari nuklir—berencana membangun enam unit baru dan memperpanjang usia reaktor yang ada.
- Rosatom Rusia saat ini membangun empat reaktor di dalam negeri dan 19 lainnya di luar negeri, menjadikannya eksportir teknologi nuklir terbesar di dunia.
- Hungaria menggandeng Rosatom untuk membangun dua reaktor baru. Republik Ceko memilih Korea Hydro & Nuclear Power Co. untuk dua unit, sementara Polandia menunjuk Westinghouse Electric Corp. untuk membangun pembangkit pertamanya—meski pendanaannya masih belum jelas.
- Jerman menutup reaktor terakhirnya pada April 2023, namun tetap menjadi pemain penting di pasar bahan bakar nuklir global.
- AS menyelesaikan reaktor baru pertamanya dalam tiga dekade pada 2024, namun belum ada proyek lanjutan. Fokus investor kini lebih kepada pengembangan SMR dan reaktivasi pembangkit yang lebih dulu ditutup.
- Jepang, yang pernah menjadi salah satu produsen nuklir terbesar, masih berjuang membangkitkan industri ini pasca-bencana Fukushima 2011. Jepang menargetkan nuklir menyumbang 20% listrik pada 2040 dan mempertimbangkan pembangunan reaktor baru.
- China mempercepat ekspansi nuklir dan kini membangun 29 reaktor, menurut data IAEA. Negara ini diprediksi menyalip AS sebagai produsen listrik nuklir terbesar dalam dekade mendatang.
- Di tempat lain: India membangun enam reaktor; Uni Emirat Arab mulai mengoperasikan reaktor keempatnya pada Maret 2024; Korea Selatan—yang membangun reaktor UEA—berencana membangun sedikitnya tiga reaktor domestik baru dan mengekspor lebih banyak unit. Negara lain yang tengah membangun PLTN termasuk Bangladesh, Mesir, Iran, Pakistan, dan Turki.
Apa peran Silicon Valley?
Para miliarder teknologi AS seperti Sam Altman, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg sudah lama mengucurkan modal pribadi untuk mendukung startup teknologi reaktor baru. Kini, perusahaan mereka pun ikut terlibat—dalam upaya mencari sumber daya listrik bagi pusat data AI yang haus energi.
- Juni 2024, Amazon Web Services meneken kesepakatan pembelian 1.920 megawatt listrik dari PLTN Susquehanna milik Talen Energy di Pennsylvania hingga 2042—bagian dari investasi AI senilai US$20 miliar.
- Di bulan yang sama, Meta menyepakati kontrak 20 tahun untuk membeli 1.121 megawatt dari Constellation Energy Corp.—menghidupkan kembali PLTN di dekat Clinton, Illinois, yang nyaris ditutup karena kalah bersaing dengan gas murah.
- Mei 2024, Google (Alphabet Inc.) mengumumkan kerja sama dengan Elementl Power untuk pengembangan tiga lokasi PLTN baru di AS—masing-masing berkapasitas minimal 600 megawatt.
- September 2024, Microsoft mengumumkan kesepakatan dengan Constellation untuk menghidupkan kembali PLTN Three Mile Island di Pennsylvania, yang ditutup pada 2019. Reaktor tersebut diperkirakan kembali beroperasi pada 2028 dan memasok listrik ke pusat data Microsoft selama 20 tahun.
Apa kritik terhadap energi nuklir?
Kritikus menilai bencana Fukushima adalah bukti terbaru bahwa energi nuklir terlalu berisiko. Sebelumnya, kecelakaan juga terjadi di Three Mile Island (AS, 1979) dan Chernobyl (Uni Soviet, 1986).
Ada pula kekhawatiran soal limbah reaktor yang sangat radioaktif dan bisa membahayakan lingkungan selama ribuan tahun.
Selain itu, proyek PLTN kerap mengalami pembengkakan biaya dan keterlambatan—pembangunan reaktor skala besar bisa memakan waktu satu dekade, terlalu lama bagi negara-negara yang menargetkan pemangkasan emisi gas rumah kaca hingga 50% pada 2030.
Mereka menilai energi bersih seperti surya, angin, dan panas bumi—dengan dukungan baterai—lebih cepat diimplementasikan.
Apa argumen pendukung energi nuklir?
Pendukungnya berpendapat bahwa kecelakaan nuklir sangat jarang terjadi, dan energi fosil justru membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya melalui polusi dan kecelakaan.
Studi kesehatan publik juga menunjukkan tidak ada dampak kesehatan serius akibat paparan radiasi dari insiden Fukushima.
Mereka juga yakin bahwa generasi reaktor baru—yang lebih kecil dan canggih—akan jauh lebih aman.
Selain itu, mereka menekankan transisi energi seharusnya tidak memilih antara nuklir dan energi terbarukan—keduanya harus berjalan berdampingan untuk mencegah krisis iklim yang lebih parah.
Pada 2024, sekitar dua perlima pasokan listrik global berasal dari sumber rendah karbon—angka yang diperkirakan meningkat menjadi 50% pada 2026 seiring meluasnya pemanfaatan energi terbarukan dan tetap beroperasinya PLTN.
(bbn)




























