Pengumuman ini muncul saat perusahaan farmasi Eropa berlomba-lomba menyoroti investasi mereka di AS guna mengurangi dampak tarif Presiden Donald Trump.
AstraZeneca telah mengumumkan rencana pada November—sepekan setelah Trump memenangkan Pemilu— untuk berinvestasi US$3,5 miliar di AS hingga akhir 2026, dengan catatan bahwa saat itu mereka mempekerjakan hampir 18.000 orang di negara tersebut.
Perusahaan tersebut menjelaskan pengumuman investasi terbaru ini merupakan tambahan dari jumlah investasi sebelumnya.
Investasi Besar
Sejak Trump terpilih, para pesaing Eropa menggembar-gemborkan rencana investasi yang semakin besar. Novartis AG dari Swiss pada April mengumumkan rencana anggaran infrastruktur senilai US$23 miliar di AS, sedangkan saingan sekotanya, Roche Holding AG, mengatakan akan berinvestasi hingga US$50 miliar.
Pada Mei, perusahaan farmasi asal Prancis, Sanofi mengumumkan niatnya untuk berinvestasi setidaknya US$20 miliar di AS hingga tahun 2030.
Pascal Soriot, yang menjabat sebagai CEO AstraZeneca sejak 2012, mendesak para pembuat kebijakan AS untuk menahan penerapan tarif. Sekitar Maret-Mei lalu, ia merekomendasikan pejabat AS agar membebaskan obat-obatan dari tarif, beralasan bahwa insentif pajak merupakan cara yang lebih baik untuk menarik investasi dalam pengembangan dan produksi obat.
Pada Senin, Soriot mengatakan ia memahami kebutuhan negara-negara untuk memproduksi obat-obatan secara domestik.
"Ini soal keamanan nasional," ucapnya. "Ini visi yang telah disampaikan presiden dan pemerintahannya, dan visi yang sepenuhnya kami pahami, sepenuhnya dukung, dan tarif ini mempercepat gerakan yang akan kami lakukan dalam situasi apa pun."
Trump mengusulkan berbagai jadwal tarif produk farmasi, terbaru pungutan yang akan mulai berlaku secepatnya 1 Agustus. Dia mengklaim akan memberi perusahaan waktu satu tahun untuk memindahkan produksinya ke AS sebelum menerapkan tarif setinggi 200%.
Sementara di Inggris, Soriot mengutarakan kekhawatirannya mengenai komitmen AstraZeneca terhadap negara asalnya. Ia sudah lama mengeluhkan lingkungan regulasi Inggris, yang menurutnya mengancam menghambat daya saing negara tersebut dengan AS dan China.
Pada Januari, AstraZeneca membatalkan rencana pembangunan pabrik vaksin senilai £450 juta (US$607 juta) di Liverpool. Perusahaan ini mengoperasikan 17 fasilitas produksi di 12 negara bagian AS.
Awal bulan ini, surat kabar Inggris The Times melaporkan Soriot sedang mempertimbangkan untuk memindahkan pencatatan saham perusahaan ke AS. Ini akan menjadi pukulan telak bagi pasar modal Inggris, yang mengalami pengkhianatan serupa dari perusahaan lain dalam beberapa tahun terakhir.
"Dalam banyak hal, kami merupakan perusahaan AS, tetapi kebetulan [sahamnya] tercatat di London dan berkedudukan di London," kata Soriot pada Senin malam menjawab pertanyaan Bloomberg News tentang apakah AstraZeneca berencana memindahkan pencatatan sahamnya ke AS.
Di bawah kepemimpinan Soriot, nilai pasar AstraZeneca meningkat lebih dari tiga kali lipat seiring perusahaan menjadi raksasa global dalam obat-obatan kanker. AstraZeneca juga membangun jaringan obat yang signifikan untuk penyakit-penyakit lain, termasuk kardiovaskular, ginjal, dan metabolik.
(bbn)






























