"Kita sudah punya MoU dengan US Wheat untuk impor 1 juta metrik ton per tahun dari 2026-2030 dengan nilai minimum US$250 juta per tahun," ujar Direktur Eksekutif Aptindo Ratna Sari Loppies saat dihubungi, Rabu (9/7/2025).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang Januari-Mei tahun ini, nilai impor non-migas dari AS adalah US$3,83 miliar. Angka itu setara dengan 4,62% dari total impor non-migas Indonesia.
Ada beberapa produk yang banyak didatangkan dari AS. Pertama adalah telur unggas.
Sepanjang Januari-April, nilai impor komoditas ini adalah US$25.530. AS menjadi negara pemasok telur unggas impor terbesar ketiga bagi Indonesia setelah India dan Jerman.
Kemudian ada daging jenis lembu di mana nilai impor sepanjang Januari-April adalah US$852.174. AS menjadi pemasok terbesar setelah India, Australia, Brasil, dan Selandia Baru.
Lalu ada susu dengan nilai impor pada 4 bulan pertama 2025 adalah US$24,53 juta. AS adalah pemasok susu impor terbesar bagi Indonesia setelah Selandia Baru, Australia, dan Belgia.
Salah satu impor terbesar Indonesia dari AS adalah kedelai. Pada Januari-April nilainya mencapai US$360,77 juta. AS adalah negara asal kedelai impor terbesar mengalahkan Kanada, Bolivia, hingga Malaysia.
Jagung juga menjadi produk AS yang banyak masuk ke Nusantara. Selama 4 bulan pertama 2025, impor jagung dari AS bernilai US$20,03 juta. AS adalah negara asal impor jagung terbesar kedua bagi Indonesia, hanya kalah dari Argentina.
Berikutnya ada komoditas gandum dan meslin. Sepanjang Januari-April, nilai impor komoditas ini adalah US$45,14 juta. Impor gandum dan meslin asal AS hanya kalah dari Australia, Kanada, Argentina, dan Brasil.
Bahkan Indonesia pun mengimpor cengkeh dari AS, Nilainya memang relatif kecil yakni US$60.647 sepanjang Januari-April. AS menjadi negara asal cengkeh impor terbesar setelah Madagaskar dan Timor Leste.
(ell)





























