Logo Bloomberg Technoz

Kasus campak di wilayah Eropa WHO dua kali lipat tahun lalu menjadi 125.000, sementara kasus batuk rejan tiga kali lebih banyak dibandingkan tahun 2023, kata Hans Kluge, direktur regional WHO untuk Eropa, dalam sebuah pernyataan.

Lonjakan Kasus

“Ini bukan sekadar angka,” katanya. “Ini adalah ratusan ribu keluarga yang mengalami kesedihan karena anak-anak mereka sakit, padahal bisa dicegah.”

Sebagian masalahnya berasal dari banyaknya anak yang melewatkan vaksinasi akibat pandemi Covid-19 dan kemudian melewati usia imunisasi, jelas Ephrem Lemango, kepala imunisasi global UNICEF, kepada wartawan dalam panggilan pers.

Studi tersebut menemukan bahwa jumlah anak yang sama sekali belum divaksinasi (“zero-dose children”) meningkat sebanyak 74.000 pada 2024 menjadi 238.000 di wilayah Eropa WHO.

Sementara itu di Inggris, yang tidak termasuk dalam studi wilayah WHO, data terpisah menunjukkan tingkat vaksinasi anak untuk campak adalah 89% untuk dosis pertama dan 85% untuk dosis kedua. Seorang anak baru-baru ini meninggal di Inggris setelah tertular campak, menurut laporan media termasuk The Sunday Times akhir pekan lalu.

Wabah di AS

Amerika Serikat juga menghadapi wabah campak, dengan jumlah kasus pada tahun 2025 telah mencapai tingkat tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Sebagian besar kasus terjadi pada orang yang tidak divaksinasi. Robert F. Kennedy Jr., pejabat kesehatan tertinggi AS, beberapa kali meremehkan ancaman campak.

Tahun ini juga terjadi pengurangan besar dalam pendanaan kesehatan global setelah Presiden AS Donald Trump memangkas dukungan untuk program-program penting. Negara-negara lain juga mulai mengurangi pembiayaan untuk bantuan pembangunan.

“Pemotongan bantuan yang drastis, ditambah dengan misinformasi tentang keamanan vaksin, mengancam untuk menghapus kemajuan puluhan tahun,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam pernyataannya.

(bbn)

No more pages