Hal ini dikhawatirkan menghambat perbaikan infrastruktur vital seperti sistem irigasi, yang menjadi kunci dalam menjaga stabilitas hasil panen di musim kemarau.
Hal ini juga diprediksi membuat neraca produksi beras RI tetap defisit. Konsumsi diperkirakan turun menjadi 36,52 juta ton pada 2026 dari 36,74 juta ton tahun sebelumnya, tetapi masih jauh di atas produksi domestik.
Defisit produksi pada 2025/2026 diperkirakan sebesar 2,87 juta ton, yang berarti Indonesia akan kembali mengandalkan impor, yang diproyeksikan naik dari 600 ribu ton menjadi 800 ribu ton.
Riset tersebut juga menuliskan berbagai tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam mencapai swasembada pangan jangka menengah dan panjang seperti preferensi produksi tanaman yang lebih tahan terhadap iklim dan semakin menyusutnya tenaga kerja di sektor pertanian.
Meski pemerintah tetap menargetkan swasembada, BMI melihat tren penurunan produksi akan terus berlangsung hingga 2029. Tingkat swasembada diproyeksi hanya berada di kisaran 91,9% pada akhir 2029, turun dari 97,5 persen pada awal 2020-an.
Sebelumnya, Kementerian Pertanian menargetkan produksi beras pada 2026 mendatang dapat mencapai 33,8 juta ton, naik tipis dibandingkan target yang dicanangkan sepanjang tahun ini yang mencapai 32,83 juta ton.
"Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas komunitas pertanian tahun 2026 dengan target produksi beras sebesar 33,8 juta ton," ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Senin (7/7/2025).
(ell)





























