Logo Bloomberg Technoz

Skenario ini, menurut Bahlil, menelan investasi yang lebih ringan untuk tiap unitnya dibandingkan dengan membangun satu unit dengan kapasitas raksasa.

“Ada sekarang, [kilang] per spot ada yang per 60.000 bph. Nah, sekarang feasibility study finalnya lagi dibuat. Nah, itu jauh lebih murah. Kalau kilang per 60.000 bph itu jauh lebih murah, harganya sekitar US$600 juta—US$700 juta. Jadi kalau kita compile menjadi 500.000 bph itu tidak lebih dari US$6 miliar,” katanya ditemui di sela acara Pelepasan Mudik Bareng Sektor ESDM 2025, Kamis (27/3/2025).

Skema tersebut, lanjut Bahlil, menggunakan metode pembangunan per titik atau spot. Dia menyebut saat ini pemerintah sedang melakukan studi terhadap negara-negara yang sudah memakai skenario tersebut, khususnya di wilayah Amerika Latin dan Afrika.

Dengan asumsi skenario tersebut, kata Bahlil, proyek kilang dengan kapasitas kumulatif 1 juta bph kemungkinan akan dibangun secara tersebar di banyak lokasi di Tanah Air.

“Iya, karena begini, negara kita ini kan negara kepulauan. Negara kepulauan yang memang kita harus mempertimbangkan aspek logistik. Nah, kita lagi menghitung apakah memang lebih ekonomis dan tepat di satu tempat, atau kita akan buat per spot-spot,” jelasnya.

Konsep pembangunan kilang spot dengan kapasitas kecil dan lokasi menyebar sebetulnya telah dilakukan oleh China, dengan istilah teapots.

Teapot refineries adalah kilang minyak kecil yang dimiliki oleh perusahaan swasta di China, dan biasanya memiliki kapasitas di bawah 100.000 bph, serta biasanya berlokasi di daerah perdesaan.

Kilang-kilang teapots ini memainkan peran penting dalam industri minyak China, karena mereka bertanggung jawab untuk memasok sebagian besar minyak mentah dan produk minyak yang dikonsumsi di China.

Namun, berbeda dengan kilang reguler, industri kilang spot cenderung lebih rentan mengalami guncangan saat terjadi anomali di pasar minyak, sebagaimana tengah dialami oleh banyak teapots di Negeri Panda sejak awal tahun ini.

Risiko

Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal berpendapat negara dengan wilayah kepulauan seperti Indonesia tidak cocok untuk proyek kilang dengan metode pembangunan per titik atau spot.

Pembangunan kilang di Indonesia dinilai harus dikombinasikan dengan proyek berkapasitas besar.

Menurut Moshe, kilang dengan lokasi menyebar memang menguntungkan bagi wilayah dengan cadangan minyak yang tinggi. Biaya logistik pun akan lebih murah karena hasil produksi kilang bisa langsung dikonsumsi masyarakat.

Akan tetapi, Indonesia tetap perlu memiliki kilang berkapasitas besar untuk sejumlah wilayah yang tidak memiliki cadangan minyak.  

“Kalau kita cara berpikirnya sudah mulai generalisasi kayak gitu, sudah jelas ini bakalan kacau balau [proyek kilang yang dirancang pemerintah]. Kalau semua digeneralisasi harus kilang mini, harus 60.000 bph, ya sudah itu pasti ya saya yakin bakalan kacau balau,” kata Moshe saat dihubungi, April lalu.

“Semua harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan, kebutuhannya, suplainya, logistiknya dan lain sebagainya dan enggak ada yang pukul rata semuanya.”

(mfd/wdh)

No more pages